RSS

Pembahasan Tafsir surat At-Tiin ayat 1-8 dan surat Al-Israa ayat 7

15 Des

Untuk file makalah dibawah ini dapat didownload disini

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah
Sebagai seorang muslim yang beragama Islam dan taat kepada Allah dan Rosul-Nya kita wajib melaksanakan segala yang telah diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan mengkaji Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk Allah yang lain, yang membedakan mereka yaitu karunia akal yang sempurna. Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai kholifah di muka bumi, oleh karena itu mereka didesain dengan baik dan sempurna. Akan tetapi kemanakah manusia itu kembali itu tergantung pada amal perbuatan mereka, jika mereka melakukan kebaikan yang diridhoi Allah, kelak akan dimasukkan ke Surga, akan tetapi jika tidak mau melakukan amal perbuatan yang baik, kelak mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.
Dimulai dari penciptaan manusia pertama yaitu Nabi Adam As dengan proses yang begitu menakjubkan, berawal dari sebuah debu kemudian diproses sedemikian rupa sehingga terbentuklah seperti bentuk manusia pada umumnya dengan bentuk yang berbeda-beda.

II. Rumusan Masalah
Didalam perumusan masalah, penulis menuliskan beberapa hal yang patut dikaji dalam materi ini, diantaranya :
1. Perbedaan antara manusia dengan makhluk hidup yang lain ?
2. Apa yang membuat perbedaan diantara manusia satu dengan manusia yang lain ?
3. Apa yang dapat kita ambil dari surat At-Tiin ayat 1-8 dan surat Al-Israa ayat 7 ?

III. Tujuan Masalah
Beberapa tujuan yang dapat dihasilkan pada surat At-Tiin ayat 1-8 dan surat Al-Israa ayat 7 adalah :
1. Kita dapat mengetahui perbedaan manusia dengan makhluk hidup yang lain.
2. Kita dapat mengetahui hal-hal yang membuat terjadinya perbedaan di antara manusia satu dengan manusia yang lain.
3. Kita juga dapat mengetahui hikmah atau faedah yang dapat kita ambil dalam surat At-Tiin ayat 1-8 dan surat Al-Israa ayat 7

BAB II
PEMBAHASAN MATERI
I. Surat At-Tiin ayat 1 – 8

 •                                        
1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1587],
2. Dan demi bukit Sinai[1588],
3. Dan demi kota (Mekah) Ini yang aman,
4. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
5. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
8. Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?

At –Tin artinya buah tin, Surat ini terdiri dari delapan ayat, termasuk golongan surat Makkiyah, ayat ini menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk terbaik secara jasmaniah dan rohaniah. Namun akan meluncur ke derajat yang lebih rendah dari binatang apabila dia tidak mampu mempertahankan kemuliaannya.

A. Asbabun Nuzul
Abi Hatim meriwayatkan hadist ini dari Said bin Jabir beliau berkata : ketika di turunkan ayat اتقواالله حق تقاته kaum muslimin pada saat itu beramal dengan sangat sehingga mereka tidak memperdulikan masalahnya, kemudian Allah menurunkan ayat فاتقوا الله ماستطعتم untuk meringankan umat muslim.
Dalam ayat lain yang diriwayatkan dari Ibnu Jarim dari jalanya aufi dari Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT :……… ثم رددناه اسفل سافلين beliau berkata bahwa mereka adalah sekelompok orang yag di kembalikan pada orang-orang yang paling hina pada masa Rosulullah, Ayat lain menyebutkan dalam surat Al Alaq yakni ا ان الانسان كل, ayat tersebut di turunkan untuk Abu Jahal, karena Abu Jahal merupakan orang yang dholim dan congkak di karenakan banyaknya harta pada waktu itu, dan dia juga sangat memerangi Rosulullah.
kemudian timbul satu pertanyaan tentang mereka ketika akal mereka mengalami gangguan, kemudian Allah memberi udzur kepada mereka bahwasanya pahala yang di peroleh dari perbuatan yang mereka lakukan sebelum hilangnya akal mereka adalah miliknya.

B. Isi Kandugan
(Ayat 1-3)
Kata Tin dalam Al Qur’an hanya disebut satu kali, yaitu dalam surat ini ,Ada ahli tafsir yang menyebutkan bahwa Tin adalah buah yang berada di daerah Timur Tengah, apabila telah matang maka warnanya coklat berbiji seperti tomat, rasanya manis, berserat tinggi dan juga bisa di gunakan sebagai obat.
Kata Zaitun dalam surat ini ada ahli tafsir yang menyebutkan sejenis tumbuhan yang berada di laut tengah, pohonnya berwarna hijau, buahnya juga berwarna hijau, namun ada pula yang warnanya hitam pekat seperti anggur.
Tidak semua ahli tafsir berpendapat, bahwa yang dimaksud Tin dan Zaitun adalah nama buah, ada juga yang berpendapat bahwa Tin adalah nama bukit tempat Nabi Ibrahim AS menerima wahyu, Zaitun adalah nama bukit tempat Nabi Isa AS menerima wahyu, oleh karena itu Tin dan Zaitun adalah tempat penting yang di anggap bersejarah.
Kalau kita cermati konteks ayat tersebut, pendapat yang terakhir lebih logis karena pada ayat berikutnya, yaitu ayat yang kedua dan ke tiga, Allah SWT befirman tentang Bukit Sinai dan Kota Makkah. Hampir seluruh ahli tafsir sependapat ayat (thurisiiniin) adalah bukit tursina atau lebih di kenal dengan bukit sinai, yang berada di Palestina .
Dan yang di maksud dengan Baladil Amiin yaitu kota Makkah ( Negeri yang damai ), tempat Nabi Muhammad lahir dan menerima wahyu.
Dengan empat ayat diatas, Allah SWT bersumpah dengan empat tempat penting ini, yaitu Tin, Zaitun, Tursina dan Balaadil Amin (Kota Makkah), dimana pada empat tempat tersebut Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW menerima wahyu untuk memberikan bimbingan dan pencerahan hidup pada umat manusia. Bimbingan yang di berikan para Nabi dan Rasul ditunjukkan untuk menjaga manusia agar tetap barada pada kemuliaan,
      
Menerangkan tentang bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah dalam bentuk yang terbaik, baik lahir dan batinnya, dalam ayat ini pula menegaskan secara eksplisit bahwa manusia itu diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna .
Ar-Raghhib Asfahani, seorang pakar bahasa Al Qur’an menyebutkan bahwa kata ”TAQWIIM” pada ayat ini merupakan isyarat tentang keistimewaan manusia dibanding dengan binatang yakni pikiran dan perasaan yang sempurna.
Penegasan Allah dalam surat ini adalah bahwa Allah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan psikis, keduanya itu harus dipelihara, fisik manusia di pelihara dengan cara memberi gizi yang cukup dan menjaga kesehatannya. Dan psikis manusia dipelihara dengan memberikan agama dan pendidikan yang baik, Apabila dua kondisi ini dipelihara dan ditumbuhkembangkan maka manusia akan dapat memberikan kemanfaatannya untuk alam, dengan demikianlah manusia akan menjadi makhluk yang mulia.
(Ayat 5, 6, 7)
Demikianlah Allah menakdirkan kejadian manusia itu, sesudah lahir ke dunia, dengan berangsur-angsur tubuh menjadi kuat dan berkembang menjadi dewasa, sampai dipuncak kejadian umur. kemudian berangsur menurun yakni badan fikiran lemah, tenaga mulai berkurang, sehingga mulai rontok gigi, rambut hitam berganti dengan uban, dan kulitpun menjadi kendor, telingapun berangsur kurang pendengaranya, dan mulai menjadi orang pelupa. Kemudian apabila umur itu masih panjang juga mulailah padam kekuatan akal, Sehingga kembali seperti kanak-kanak, sudah mulai minta belas kasihan anak dan cucu. malahan ada yang sampai pikun tidak tahu apa-apa lagi. Inilah yang dinamakan dengan “ARDZALIL-‘UMUR”: tua nyanyuk. Kecuali orang yang beriman dan beramal shalih.
Manusia diciptakan Allah di dunia ini membawa amanah yang sangat besar, derajatnya akan turun ketingkat yang paling hina dari binatang sekalipun, tetapi dalam ayat lain menyebutkan: “Orang yang tidak akan turun derajat yang paling rendah adalah orang beriman. Iman secara bahasa bermakna ”pembenaran”, maksudnya pembenaran terhadap apa yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, pokok-pokoknya tergambar dalam rukun iman yang enam. ”Al immanu yaziidu wayanqushu” (Iman itu fluktuatif, dapat bertambah dan bisa berkurang). Karena itulah kita wajib menjaga iman agar tetap prima.
Selain beriman, yang bisa menyelamatkan manusia dari kejatuhanya adalah ”Amilus Shalihat” (beramal shalih) Kata ‘Amiluu berasal dari kata “amilun, Artinya pekerjaan yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Kata shalihaat berasal dari kata shaluha, artinya bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain, serta pekerjaanya itu sesuai dengan aturan-aturan yang talah ditentukan. Tanpa iman kepada Allah SWT, amal yang dilakukan akan sia-sia belaka.
Surat ini ditutup dengan ”Alaisallahu biahkamil haakimiin (“Bukankah Allah itu hakim yang seadil –adilnya”). Seolah –olah ayat ini mengatakan, ”Pikirkanlah wahai manusia, hanya Allah SWT, Hakim yang Maha Adil dan Maha Mengetahui kebutuhan kamu. Oleh sebab itu, hanya aturan-aturan-Nya yang bisa memenuhi kebutuhan kita ! ”Semoga kita menjadi orang-orang yang taat menjaga kemuliaan dari Allah, caranya adalah dengan selalu meningkatkan iman dan mengerjakan amal shaleh. Amin.”

C. Faedah-Faedah
Semua ayat dalam Al-Qur’an mengandung faedah yang banyak diantaranya :
Memberikan ketenangan hati bagi pembacanya, dengan merenungi ayat–ayat diatas betapa Allah memulyakan manusia atas makhluk lainya sehingga memotivasi untuk kita berbuat lebih baik, Menguatkan keyakinan keagamaan yang selama ini kita anut. menghimpun pokok-pokok aqidah islamiyah, lafadz-lafadz tahdir yang ada pada ayat diatas dapat mengingatkan kita untuk tidak sampai pada perbuatan yang dzolim.

II. Surat Al-Israa Ayat 7

                   •     • 
Artinya : “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.”

Surah Al-Isra’ (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, “Perjalanan Malam”) adalah surah ke-17 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti “memperjalankan di malam hari”, berhubung peristiwa Israa’ Nabi Muhammad SAW. di Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis (Palestina) yang dicantumkan pada ayat pertama dalam surah ini. Surat ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israil dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8
Dimana Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah SWT. Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israil pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

A. ISI KANDUNGAN
Didalam surat Al-Israa ini, Allah telah mengaskan kita bahwasanya apabila seseorang berbuat baik atau kebajikan kepada orang lain, maka hasil kebaikan itu untuk mereka sendiri, namun demikian, ketentuan yang terdapat dalam ayat ini tidak khusus untuk mereka sendiri, melainkan berlaku umum untuk seluruh manusia sepanjang masa. Balasan dari kebaikan atau kebajikan itu akan dirasakannya, baik di dunia maupun di akhirat, kebaikan atau kebajikan yang diterima di dunia ialah mereka menjadi umat yang kuat, mempertahankan diri dari maksud jahat yang direncanakan oleh musuh-musuh mereka, dan dapat menjamin kelancaran serta ibadah kita kepada Allah SWT. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah kebaikan yang abadi yakni surga yang penuh dengan kenikmatan yang disediakan dan dijanjikan kepada mereka, sebagai bukti keridhaan Allah SWT atas kebaikan yang mereka lakukan, dan begitu juga sebaliknya.
Apabila mereka berbuat jahat dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan wahyu dan fitrah Allah, maka akibat dari perbuatan mereka adalah kemurkaan Allah SWT yang amat pedih kepada mereka. Dengan demikian, mereka akan menjadi umat yang bercerai-berai karena diperbudak oleh hawa nafsu, sehingga kelompok satu menundukkkan kelompok yang lain.

B. FAEDAH-FAEDAH
1. Memberikan ketenangan bagi yang membacanya
2. Dengan merenungi ayat-ayat diatas, Allah SWT memuliakan manusia atas makhluk lainnya, sehingga memotivasi untuk kita berbuat yang lebih baik.
3. Dapat mengingatkan kita untuk tidak sampai pada perbuatan yang dzolim.

III. KORELASI
Korelasi atau hubungan surat At-Tiin ayat 1-8 dan surat Al-Israa ayat 7 adalah sama-sama menjelaskan tentang amal manusia di dunia dan balasan-balasan yang akan mereka terima di dunia dan di akhirat, di samping itu kedua surat ini sama-sama menjelaskan tentang perbedaan manusia satu dengan manusia yang lain.

BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Dari materi yang kami terangkan di dalam pembahasan materi, dapat kami ambil beberapa kesimpulan, diantaranya :
 Bahwasanya manusia diciptakan oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya diantara makhluk Allah yang lain.
 Bahwasanya amal kebaikan dan amal keburukan manusia pasti akan mendapatkan balasan dari Allah di dunia maupun akhirat kelak.
 Jika kejayaan dan kenikmatan yang kita rasakan menurut kita adalah dari kita sendiri itu adalah kenikmatan yang semu, sebab janji Allah bagi mereka pasti akan berlaku yakni Surga yang penuh dengan kenikmatan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Musthofa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi
Poernadarminta. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN, Balai Pustaka
Rama, Tri. 2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Agung
Rosidi, Iman. 2005. Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: CV. Media Pustaka
Tafsir Qur’anul Adzim
Tim Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahnya. Madinah : 1431 H
http://read.kitabklasik.co.cc
http://www.google.co.id
http://en.wikipedia.org/wiki/At-Tin
http://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Isra

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Desember 2011 in Makalah Pendidikan Agama Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: