RSS

Air Mutlak

15 Des

Anda dapat mendownload makalah dibawah ini disini

PENGERTIAN AIR MUTLAK
Air mutlak adalah air yang hukumnya suci dan bisa digunakan untuk mensucikan sesuatu. Dalam fiqih dikenal dengan istilah Thahirun Li nafsihi Muthahhirun li ghairihi.
Air yang suci itu banyak sekali, namun tidak semua air yang suci itu bisa digunakan untuk mensucikan. Air suci adalah air yang boleh digunakan atau dikonsumsi, misalnya air teh, air kelapa atau air-air lainnya. Namun belum tentu bleh digunakan untuk mensucikan seperti untuk berwudhu` atau mandi. Maka ada air yang suci tapi tidak mensucikan namun setiap air yang mensucikan, pastilah air yang suci hukumnya.
Air ditinjau dari suci dan tidaknya terbagi menjadi 4 bagian diantaranya yang pertama adalah air suci dan mensucikan dan tidak dimakruhkan dalam penggunaannya. Air tersebut adalah air mutlak. Air mutlak adalah air yang tidak ada batas tertentu yang tetap dengan cara menyandarkannya seperti air mawar, air teh, air kuah, dll. Air tersebut tidak dikatakan air mutlak apabila terjadi penyandaran seperti contoh-contoh air tersebut diatas . Berbeda dengan air sumur, meskipun ada penyandaran kata pada lafadz air, tapi dalam hakikatnya air sumur tidak bercampur dengan sesuatu yang dapat merubah kemurnian air tersebut, seperti halnya air laut, air sungai, air telaga, dll. Atau air yang mempunyai sifat tertentu seperti firman Allah : من ماء دافق ( dari air yang tumpah (muncrat:jw) ) atau ال pada lafadz الماء merupakan ال للعهد seperti perkataan nabi muhammad saw kepada Ummi Salamah ketika Beliau ditanya, “Apakah wajib bagi perempuan untuk mandi apabila dia bermimpi (basah) ?” Beliau menjawab, نعم إذا رأت الماء (ya, ketikan perempuan tersebut melihat air (air mani) ). Ada terjadi perbedaan tentang kata air mutlak dengan mutlak air . Kalau air mutlak adalah air yang telah memenuhi tiga kriteria diatas, sedangkan mutlak air adalah bisa mencakup seluruh air yang suci, najis dan lain-lain.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa air mutlak adalah air yang tidak mengalami perubahan yang disebabkan oleh masuknya benda lain sehingga kemurnian air tetap terjaga. Apabila ditemukan air jenis ini, maka dapat dipakai untuk bersuci, berbeda dengan air yang sudah berubah seperti air the, air mawar, dll, maka tidak dapat dipakai untuk bersuci.
Imam Asy Syafi’i berkata: Air itu suci dan tidak najis kecuali karena adanya najis yang bercampur dengannya. Matahari dan api tidak najis. Najis hanyalah sesuatu yang diharamkan. Adapun yang diperas dari pohon mawar atau lainnya, maka bukanlah air yang suci menyucikan. Demikian juga air dari sesuatu yang mempunyai ruh bukanlah air yang suci menyucikan. Karena tak satupun dari hal-hal tersebut disebut air. Hal-hal itu disebut air dalam arti air mawar atau air pohon anu atau air dengan keterangan anu. Demikian juga bila menyembelih unta dan mengambil ususnya, lalu diperas airnya, maka ini bukanlah air suci menyucikan, karena sebutan air tidak sesuai untuk hal seperti ini kecuali bila disambungkan dengan lainnya, sebagaimana air (dari) usus dan air yang dirinci seperti air mawar dan air (dari) pohon begini dan begitu. Karena itu tidak mencukupi berwudhu dengan sesuatu dari hal-hal tersebut.
Bila diambil air, lalu dicampuri susu, tepung atau madu dan air melarutkannya, maka tidak boleh berwudhu dengannya. Air-air ini disebut air tepung, air susu atau air madu. Bila dilemparkan ke dalam air sesuatu dalam jumlah sedikit berupa roti, susu dan madu yang melarut, tetapi warna air jelas dan tak ada rasa dari sesuatu itu, maka boleh berwudhu dengannya. Air ini tetap dalam keadaanya.
Demikian juga bila dituangkan ter, lalu jelas bau ter di dalam air, maka tidak boleh berwudhu dengannya. Namun bila tidak jelas, maka boleh berwudhu dengannya. Karena ter dan air mawar bercampur dengan air, sehingga tidak dapat dibedakan dari air itu. Bila dituangkan ke dalam air minyak wangi atau dilemparkan ke dalamnya kayu atau sesuatu yang berbau yang tidak bercampur dengan air, lalu jelas baunya, maka boleh berwudhu dengannya, karena tak ada sesuatu dari hal-hal tersebut ada di dalam air. Bila dituangkan misik, parfum, atau sesuatu yang melarut ke dalam air sehingga air tak dapat dibedakan darinya, lalu jelas baunya, maka tak boleh berwudhu dengannya, karena air tersebut sekarang menjadi air campuran itu. Air itu disebut air bercampur misik, air bercampur parfum atau air campuran. Demikian juga segala makanan yang dilemparkan ke dalam air berupa roti, tepung, kuah dan lain-lainnya, bila jelas rasa dan bau dari sesuatu yang bercampur itu, maka tidak boleh berwudhu dengannya, karena air tersebut dihubungkan dengan apa yang mencampurinya.
Fukaha Syafi’iyyah : Diperselisihkan definisi air mutlak. Ada yang mengatakan bahwa air mutlak adalah air tanpa ada batasan-batasan dan keterangan-keterangan yang lazim. Ini merupakan definisi dalam Ar Roudhoh dan Al Muharror, dan telah dinyatakan oleh Asy Syafi’i. Ada juga yang mengatakan air mutlak adalah air yang tetap sesuai dengan sifat aslinya. Ada juga yang mengatakan bahwa disebut air dan disebut mutlak adalah karena air bila dimutlakkan, maka itulah yang dimaksudkan. Ini yang disebutkan oleh Ibnush Sholah dan dikuti oleh An Nawawi (dalam Syarh Al Muhazzab.
Setiap air yang turun dari langit, yang memancar dari bumi, baik yang tawar maupun yang asin, baik yang dipanaskan ataupun tidak, selama tetap sesuai dengan sifat aslinya, disebut air mutlak. Air mutlak bisa disebut air saja, tanpa menambahkan keterangan di belakangnya

A. MACAM – MACAM AIR DAN HIKMAHNYA
Diantara air-air yang termasuk dalam kelompok suci dan mensucikan ini antara lain adalah :
a. Air Hujan
Air hujan yang turun dari langit hukumnya adalah suci. Bisa digunakan untuk berwudhu, mandi atau membersihkan najis pada suatu benda. Meski pun di zaman sekarang ini air hujan sudah banyak tercemar dan mengandung asam yang tinggi, namun hukumnya tidak berubah, sebab kerusakan pada air hujan diakibatkan oleh polusi dan pencemaran ulah tangan manusia dan zat-zat yang mencemarinya itu bukan termasuk najis. Ketika air dari bumi menguap naik ke langit, maka sebenarnya uap atau titik-titik air itu bersih dan suci. Meskipun sumbernya dari air yang tercemar, kotor atau najis.
Sebab ketika disinari matahari, yang naik ke atas adalah uapnya yang merupakan proses pemisahan antara air dengan zat-zat lain yang mencemarinya. Lalu air itu turun kembali ke bumi sebagai tetes air yang sudah mengalami proses penyulingan alami. Jadi air itu sudah menjadi suci kembali lewat proses itu. Hanya saja udara kota yang tercemar dengan asap industri, kendaraan bermotor dan pembakaran lainnya memenuhi langit kita. Ketika tetes air hujan itu turun, terlarut kembalilah semua kandungan polusi itu di angkasa.
Namun meski demikian, dilihat dari sisi syariah dan hukum air, air hujan itu tetap suci dan mensucikan. Sebab polusi yang naik ke udara itu pada hakikatnya bukan termasuk barang yang najis. Meski bersifat racun dan berbahaya untuk kesehatan, namun selama bukan termasuk najis sesuai kaidah syariah, tercampurnya air hujan dengan polusi udara tidaklah membuat air hujan itu berubah hukumnya sebagai air yang suci dan mensucikan.
Apalagi polusi udara itu masih terbatas pada wilayah tertentu saja seperti perkotaan yang penuh dengan polusi udara. Di banyak tempat di muka bumi ini, masih banyak langit yang biru dan bersih sehingga air hujan yang turun di wilayah itu masih sehat. Tentang sucinya air hujan dan fungsinya untuk mensucikan, Allah SWT telah berfirman :
  •                    

Ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki. (QS. Al-Anfal : 11)
              

Dia lah yang meniupkan angin pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya ; dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (QS. Al-Furqan : 48)
b. Salju
Salju sebenarnya hampir sama dengan hujan, yaitu sama-sama air yang turun dari langit. Hanya saja kondisi suhu udara yang membuatnya menjadi butir-butir salju yang intinya adalah air juga namun membeku dan jatuh sebagai salju. Hukumnya tentu saja sama dengan hukum air hujan, sebab keduanya mengalami proses yang mirip kecuali pada bentuk akhirnya saja. Seorang muslim bisa menggunakan salju yang turun dari langit atau salju yang sudah ada di tanah sebagai media untuk bersuci, baik wudhu`, mandi atau lainnya.
Tentu saja harus diperhatikan suhunya agar tidak menjadi sumber penyakit. Ada hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang kedudukan salju, kesuciannya dan juga fungsinya sebagai media mensucian. Di dalam doa iftitah setiap shalat, salah satu versinya menyebutkan bahwa kita meminta kepada Allah SWT agar disucikan dari dosa dengan air, salju dan embun
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya bacaan apa yang diucapkannya antara takbir dan al-fatihah, beliau menjawab,`Aku membaca,`Allahumma Ba`id Baini Wa Baina Khathaya Kamaa Baa`adta Bainal Masyriqi Wal Maghrib. Allahumma Naqqini min Khathayaa Kamaa Yunaqqats Tsaubal Abyadhu Minad-danas. Allahumma aghsilni min Khathayaaya Bits-tsalji Wal Ma`i Wal Barad.(HR. Bukhari 744, Muslim 597, Abu Daud 781 dan Nasai 60)
Artinya : Ya Allah, Jauhkan aku dari kesalahn-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, sucikan aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana pakaian dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan embun.
c. Embun
Embun juga bagian dari air yang turun dari langit, meski bukan berbentuk air hujan yang turun deras. Embun lebih merupakan tetes-tetes air yang akan terlihat banyak di hamparan kedaunan pada pagi hari. Maka tetes embun yang ada pada dedaunan atau pada barang yang suci, bisa digunakan untuk mensucikan, baik untuk berwudhu, mandi, atau menghilangkan najis. Dalilnya sama dengan dalil di atas yaitu hadits tentang doa iftitah riwayat Abu Hirairah ra.
d. Air Laut
Air laut adalah air yang suci dan juga mensucikan. Sehingga boleh digunakan untuk berwudhu, mandi janabah ataupun untuk membersihkan diri dari buang kotoran (istinja`). Termasuk juga untuk mensucikan barang, badan dan pakaian yang terkena najis.
Meski pun rasa air laut itu asin karena kandungan garamnya yang tinggi, namun hukumnya sama dengan air hujan, air embun atau pun salju. Bisa digunakan untuk mensucikan. Sebelumnya para shahabat Rasulullah SAW tidak mengetahui hukum air laut itu, sehingga ketika ada dari mereka yang berlayar di tengah laut dan bekal air yang mereka bawa hanya cukup untuk keperluan minum, mereka berijtihad untuk berwudhu` menggunakan air laut.
Sesampainya kembali ke daratan, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hukum menggunakan air laut sebagai media untuk berwudhu`. Lalu Rasulullah SAW menjawab bahwa air laut itu suci dan bahkan bangkainya pun suci juga.
Dari Abi Hurairah ra bahwa ada seorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Ya Rasulullah, kami mengaruhi lautan dan hanya membawa sedikit air. Kalau kami gunakan untuk berwudhu, pastilah kami kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut ?`. Rasulullah SAW menjawab,`(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya. (HR. Abu Daud 83, At-Tirmizi 79, Ibnu Majah 386, An-Nasai 59, Malik 1/22).
e. Air Zam-zam
Air Zam-zam adalah air yang bersumber dari mata air yang tidak pernah kering. Mata air itu terletak beberapa meter di samping ka`bah sebagai semua sumber mata air pertama di kota Mekkah, sejak zaman Nabi Ismail as dan ibunya pertama kali menjejakkan kaki di wilayah itu. Selain disunnahkan untuk minum air zam-zam, juga bisa dan boleh digunakan untuk bersuci, baik untuk wudhu, mandi, istinja` ataupun menghilangkan najis dan kotoran pada badan, pakaian dan benda-benda. Semua itu tidak mengurangi kehormatan air zam-zam. Tentang bolehnya air zam-zam untuk digunakan bersuci atau berwudhu, ada sebuah hadits Rasulullah SAW dari Ali bin Abi Thalib ra.
Dari Ali bin Abi thalib ra bahwa Rasulullah SAW meminta seember penuh air zam-zam. Beliau meminumnya dan juga menggunakannya untuk berwudhu`. (HR. Ahmad).
f. Air Sumur atau Mata Air
Air sumur, mata air dan dan air sungai adalah air yang suci dan mensucikan. Sebab air itu keluar dari tanah yang telah melakukan pensucian. Kita bisa memanfaatkan air-air itu untuk wudhu, mandi atau mensucikan diri, pakaian dan barang dari najis. Dalil tentang sucinya air sumur atau mata air adalah hadits tentang sumur Bidho`ah yang terletak di kota Madinah.
Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa seorang bertanya,`Ya Rasulullah, Apakah kami boleh berwudhu` dari sumur Budho`ah?, padahal sumur itu yang digunakan oleh wanita yang haidh, dibuang ke dalamnya daging anjing dan benda yang busuk. Rasulullah SAW menjawab,`Air itu suci dan tidak dinajiskan oleh sesuatu`. (HR. Abu Daud 66, At-Tirmizy 66, An-Nasai 325, Ahmad3/31-87, Al-Imam Asy-Syafi`i 35).
g. Air Sungai
Sedangkan air sungai itu pada dasarnya suci, karena dianggap sama karakternya dengan air sumur atau mata air. Sejak dahuu umat Islam terbiasa mandi, wudhu` atau membersihkan najis termasuk beristinja dengan air sungai. Namun seiring dengan terjadinya perusakan lingkungan yang tidak terbentung lagi, terutama di kota-kota besar, air sungai itu tercemar berat dengan limbah beracun yang meski secara hukum barangkali tidak mengandung najis, namun air yang tercemar dengan logam berat itu sangat membahayakan kesehatan.
Maka sebaiknya kita tidak menggunakan air itu karena memberikan madharrat yang lebih besar. Selain itu seringkali air itu sangat tercemar berat dengan limbah ternak, limbah wc atau bahkan orang-orang buang hajat di dalam sungai. Sehingga lama-kelamaan air sungai berubah warna, bau dan rasanya. Maka bisa jadi air itu menjadi najis meski jumlahnya banyak.
Sebab meskipun jumlahnya banyak, tetapi seiring dengan proses pencemaran yang terus menerus sehingga merubah rasa, warna dan aroma yang membuat najis itu terasa dominan sekali dalam air sungai, jelaslah air itu menjadi najis. Maka tidak syah bila digunakan untuk wudhu`, mandi atau membersihkan najis. Namun hal itu bila benar-benar terasa rasa, aroma dan warnanya berubah seperti bau najis.
Namun umumnya hal itu tidak terjadi pada air laut, sebab jumlah air laut jauh lebih banyak meskipun pencemaran air laut pun sudah lumayan parah dan terkadang menimbulkan bau busuk pada pantai-pantai yang jorok.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com
http://blog.re.or.id/2-qullah-itu-berapa-liter.htm
http://alhabaib.blogspot.com/2010/04/air-dan-pembagiannya-dalam-islam.html
http://ms.wikipedia.org/wiki/Air_%28bersuci%29
http://yaaukhti.wordpress.com/2011/04/28/pembahasan-air-suci-dan-air-najis/

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Desember 2011 in Makalah Pendidikan Agama Islam

 

2 responses to “Air Mutlak

  1. sratuzzz

    15 Desember 2011 at 17:51

    mksh pak, moga manfaat

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: