RSS

BIOGRAFI IMAM SYAFI’I

Anda dapat mendownload makalah disini

BIOGRAFI IMAM SYAFI”I ROHIMAHULLOH
Dia adalah Abu Abdullah Muhammad bin Idris bin Abbas bin Utsman bin Syafi’i bin Saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Al – Mutthalib bin Abdi Manaf bin Qushai Al-Qurasyi Al – Mathalib Asy – Syafi’i Al-hijazi Al-Makki, anak paman Rasulullah Shallallahu Alai wa Sallam yang bertemu silsilsilahnya dengan Rasulullah pada Abdu Manaf.
Para ulama sepakat bahwa ia lahir pada tahun 150 Hijriyah, yaitu pada tahun meninggalnya Imam Abu Hanifah Rahimahumullah. Bahkan, ada yang mengatakan kalau ia lahir pada hari yang sama ketika Abu Hanifah Wafat.
Imam An-Nawawi berkata, ”Ketahuilah bahwa sesungguhnya Imam Asy-syafi’I adalah termasuk manusia pilihan yang mempunyai akhlak mulia dan mempunyai peran yang sangat penting dalam sejarah islam.
Pada diri Imam Asy-Syafi’i terkumpul berbagai macam kemuliaan karunia Allah, di antaranya nasab yang suci bertemu dengan nasabnya Rasulullah dalam satu nasab dan garis keturunan yang sangat baik semua ini merupakan kemuliaan paling tinggi yang tidak ternilai dengan materi .
Awal menuntut ilmu dan kecerdasannya
Dari Abu Nu’aim dengan sanad dari Abu Bakar bin Idris juru tulis Imam Al- Humaidi, dari Imam Asy-syafi’i, dia berkata, aku adalah seorang yatim di bawah asuhan ibuku. Ibuku tidak mempunyai dana guna membayar seorang guru untuk mengajariku. Namun, seorang guru telah mengizinkan diriku untuk belajar dengannya, ketika ia mengajar yang lain. Tatkala aku selesai mengkhatamkan Al-Qur’an, aku lalu masuk masjid untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan para ulama. Dalam pengajian itu, aku hafalkan hadits dan permasalahan-permasalahan agama. Waktu itu aku masih tinggal di Makkah, di Suku Khif.
Akibat kemiskinanku, ketika aku melihat tulang yang menyerupai papan, maka tulang itu ku ambil untuk aku gunakan menulis hadist dan beberapa permasalahan agama. Di daerah kami terdapat tempat sampah, ketika tulang yang aku tulis sudah penuh, maka tulang itu aku buang disana.
Imam Al – Baihaqi dengan sanadnya dari Mus’ab bin Abdillah Az-Zabiri, dia berkata, ”Imam Asy –Syafi’i memulai aktivitas keilmuannya dengan belajar sya’ir, sejarah dan sastra. Setelah itu baru menekuni dunia fikih.”
Sebab ketertarikan Imam Asy-syafi’i terhadap fikih bermula dari suatu ketika dia berjalan dengan mengendarai binatang, sedang di belakangnya kebetulan sekretaris Ubay sedang mengikutinya.
Berangkat dari perkataan inilah, Imam Asy-Syafi’i melantunkan bait sya’ir, sehingga sekretaris Ubay memacu kendaraannya agar berjalan lebih cepat lagi untuk menghampirinya. Ketika sudah mendekat dengan Imam Asy-Syafi’i, ia lalu berkata “orang sepertimu akan kehilangan muru’ah kalau hanya serperti ini saja. Di mana kemampuanmu dibidang fiqih ?
Berangkat dari inilah Imam Asy Syafi’i , belajar ilmu fikih kepada Imam Malik bin Anas. Adz –Dzabi berkata “dari Imam Asy-Syafi’i, dia berkata “aku telah mendatangi Imam Malik, sedang usiaku baru 13 tahun, demikian berdasarkan riwayat ini. Akan tetapi secara zhahir, nampaknya usianya pada saat itu adalah dua puluh tiga tahun.
Sebelum mendatangi Imam Malik, aku terlebih dahulu mendatangi saudara sepupuku yang menjabat walikota madinah. Kemudian saudara sepupuku mengantarku ke Imam Malik, saudara sepupuku lalu berkata kepadaku, ”carilah seorang guna menyeleksi bacaan Al-Qur-anmu!” Lalu aku menjawab, aku mencari guru untuk membaca Al-Qur-an! Lalu, aku menghadapkan bacaanku kepada Imam Malik. Barangkali bacaanku sudah jauh, akan tetapi ia memintaku untuk mengulanginya, sehingga aku pun mengulangi bacaan Al-Qur’anku lagi yang membuatnya terkagum kagum, ketika aku bertanya kepada Imam Malik beberapa masalah dan dijawabnya, maka Imam Malik lalu berkata ”apakah kamu ingin menjadi seorang hakim”
Setelah berguru kepada Imam Malik .Imam Asy-syfi’i lalu pindah ke yaman , dari yaman lalu ia pindah ke Irak untuk menyibukkan dirinya dalam ilmu agama. Di Irak ia berdebat dengan Muhammad bin Al-Hasan dan ulama lainnya. di sana ia sebarkan ilmu Hadist, mendirikan madzhabnya dan membantu perkembangan sunnah. Hasilnya, nama dan keutamaan Imam Asy-syafi’i tersebar dan semakin dikenal hingga namanya membumbung ke angkasa memenuhi setiap dataran bumi Islam.
Sanjungan Para Ulama terhadapnya
Abu Nu’aim Al-Hafizh berkata, ”diantara ulama terdapat imam yang sempurna, berilmu dan mengamalkannya, mempunyai keilmuan yang tinggi, berakhlak mulia dan dermawan. Ulama demikian ini adalah cahaya diwaktu gelap yang menjelaskan segala kesulitan dan ilmunya menerangi belahan Timur sampai Barat.
Madzhabnya di ikuti oleh orang banyak, baik yang tinggal di darat maupun di lautan karena madzhabnya didasarkan pada sunnah, atsar dan sesuatu yang telah disepakati para sahabat Anshar dan Muhajirin, dan terambil dari perkataan imam pilihan. Ulama itu adalah Abu Abdilllah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i Al-Aimmah Al-Ahbar Al-Hijazi Al-Muthalibi.
Dari Ayyub bin Suwaid, dia berkata, ”aku tidak pernah membayangkan kalau dalam hidupku ini aku dapat bertemu dengan orang seperti Imam Asy-Syafi’i. Ar-Razi berkata, ”sesungguhnya sanjungan dan pujian para ulama terhadap Imam Asy-Syafi’i sangat banyak dan tak terhitung jumlahnya.
Ibadah, Kewara’an dan Kezuhudannya
Bahr bin Nashr berkata, ”di masa Imam Asy-Syafi’i, aku belum pernah melihat dan mendengar ada orang yang bertaqwa dan wira’i melebi Imam Asy-Syafi’i. Begitu juga aku belum pernah mendengarkan ada orang yang melantunkan Al-Qur’an dengan suara yang lebih bagus darinya.”
Al – Husain Al Karabisi berkata, ”Aku bermalam bersama Asy Syafi’i selama delapan puluh malam, dia selalu sholat sekitar sepertiga malam. Dalam sholatnya, aku juga tidak pernah melihatnya membaca Al-Qur’an kurang dari delapan puluh ayat, kalau pun lebih tidak lebih dari seratus ayat, ketika membaca ayat yang berisi rahmat, maka ia selalu berdoa untuk dirinya dan orang mukmin semuanya. Dan ketika membaca ayat yang berisi adzab, maka ia selalu memohon perlindungan dari Allah untuk dirinya dan orang mukmin semuanya. Kalau aku perhatikan, maka seolah olah rasa takut dan penuh harap berkumpul dan bersatu menjadi satu dalam dirinya.

Kedermawanan
Ibnu Abdil Hakam mengatakan bahwa Imam Asy-Syafi’i adalah orang yang paling dermawan terhadap sesuatu yang ia miliki. Ketika ia lewat di tempat kami dan tidak melihat diriku maka ia meninggalkan pesan agar aku datang kerumahnya. Oleh karena itu aku sering makan siang dirumahnya.
Ketika aku duduk bersamanya untuk makan siang, maka ia menyuruh budak perempuannya agar memasak makanan untuk kami. Lalu ia tetap setia menunggu di meja makan hingga kami selesai dari makan. Dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata ”ketika Asy-Syafi’i sedang meniki keledai melewati pasar, maka tanpa sadar cemeti ditangannya jatuh mengenai salah seorang tukang sepatu, sehingga ia pun turun ngambil cemeti dan mengusap orang tersebut. Kemudian Imam Asy-Syafi’i berkata kepada Ar-Rabi’, ”berikan uang Dinar yang ada padamu kepadanya,” Ar-Rabi’ berkata ”Aku tidak tahu, enam atau sembilan dinar yang aku berikan kepada tukang sepatu tersebut.
Keteguhan Mengikuti Sunnah dan Celaannya Terhadap Ahli Bid’ah
Dari Abu Ja’far At-Tirmidzi, ia mengatakan, ”ketika aku ingin menulis kitab tentang pemikiran, tiba tiba dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah. Aku tanya kepada beliau, ya Rasulullah, apakah aku perlu menulis pemikiran Imam Asy-Syafi’i ? Maka beliau bersabda, ”sesungguhnya itu bukan pemikiran, Akan tetapi, itulah bantahan terhadap orang orang yang menentang sunnah-sunnahku.
Ketika Seseorang bertanya, ”Wahai Abu Abdillah, apakah kami boleh mengamalkan Hadist dari Rasulullah itu shahih dan aku tidak menggunakannya, maka aku bersaksi ada kalian bahwa akalku telah hilang.
Dalam kesempatan lain Imam Asy-Syafi’i mengatakan, ”Apabila hadist itu adalah sahih maka ketahuilah bahwa sesungguhnya itu adalah mazhabku .
Asy-Syafi’i, pernah berkata, ”Seorang hamba melakukan semua jenis dosa selain syirik ada Allah itu masih lebih baik daripada hamba yang bemain-main dengan hawa sunya.

Kepandaiannya Berkarya dan karya-karyanya membawa manfaat
Imam Asy-Syafi’i adalah orang pertama kali yang berkarya dalam bidang Ushul Al-h dan Ahkam Al-Qur’an. Para ulama dan cendekiawan terkemuka pada mengkaji karya-ya Imam Asy-Syafi’i dan mengambil manfaat darinya.
Imam Asy-Syafi’i telah menulis kitab Ar-Risalah. Padahal pada saat itu Imam Asy-fi’i masih sangat muda. Dan masih banyak lagi karya-karyanya yang lain.
Dan beliau juga pandai dalam bersyair dan berkata mutiara, seperti:
1. Ilmu bukanlah sesuatu yang dihafal,tetapi ilmu adalah sesuatu yang ada manfaatnya.
2. Barangsiapa membenarkan ajaran Allah, maka ia akan selamat.
3. Barangsiapa memperhatikan agamanya, maka ia akan selamat dari kehinaan.barangsiapa zuhud di dunia, maka hatinya akan ditenangkan Allah dengan memperlihatkan padanya balasan yang baik.

Guru dan Murid-muridnya
Guru-guru beliau : Al-Hafiz berkata, ”Imam Asy-Syafi’i berguru kepada Muslim bin Khalid Az-Zanji, Imam Malik bin Anas, Ibrahim bin Sa’ad, Sa’id bin Salim Al-Qaddah, Ad-awardi, Abdul Wahab Ats-Tsaqafi, dan banyak lagi yang lainnya. Murid-murid beliau : Adalah Sulaiman bin Dawud Al-Hasyimi, Abu Bakar Abdullah Az-Zubair Al-Humaidi, Ibrahim bin Al-Mundzir Al-Hizami, Imam Ahmad bin Hambal, dan yang lainnya.
Wasiat Beliau
Sesunggunya beliau berwasiat kepada dirinya sendiri dan orang yang mendengar wasiatnya ini untuk tetap menghalalkan sesuatu yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya dan dihalalkan oleh Nabi-Nya, dan mengharamkan sesuatu yang diharamkan dalam sunnah utusan-Nya.
Janganlah melampaui batas-batas ketentuan yang dihalkan maupun yang diharamkan tersebut dengan hal-hal lain. Sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas-batas ketentuan tersebut berarti meninggalkan kewajiban yang ditetapkan Allah.
Sakit dan Meninggalnya Beliau
Dia menderita penyakit yang kronis, sampai-sampai darahnya mengalir ketika dia sedang menaiki kendaraannya. Aliran darah itu berceceran sampai memenuhi celana, kenderaan dan telapak kakinya .
Ar-Rabi’ bin Sulaiman berkata, ”Imam Asy-Syafi’i meninggal pada malam jum’at setelah maghrib. Pada waktu itu aku berada disampingnya. Jasadnya di makamkan pada hari jum’at setelah ashar, hari terakhir di bulan Rajab. Ketika kami pulang dari mengiringi jenazahnya kami melihat hilal bulan sya’ban tahun 204 Hijriyah.
Demikian yang dapat kami paparkan sedikit tentang Biografi Imam Asy-Syafi’i. Setelah mengetahuinya, hati ini terasa rindu ingin bersamanya menikmati pemikirannya yang sempurna, pancaran kepadaiannya dan berkah kata-katanya.

Wallahu a’lam bishowab.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Desember 2011 in Makalah Pendidikan Agama Islam

 

Upaya PAI dalam SMA

Anda dapat mendownload makalah disini

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, di Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan maupun masyarakat.
Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertidakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar kompetesi sesuai dengan jenjang pendidikan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri:

1. Lebih menitik beratkan pencapaian kompetensi secata utuh selain penguasaaan materi;
2. Mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia;
3. Memberiklan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran seauai dengan kebutuhan dan ketersedian sumber daya pendidikan.

Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pencapaian seluruh kompetensi dasar perilaku terpuji dapat dilakukan tidak beraturan. Peran semua unsur Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan, orang tua peserta didik dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam.

1.2. Tujuan
Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk:
1. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT;
2. Mewujudkan manuasia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas masyarakat.

1.3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam didalam lingkup SMA meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Al Qur’an dan Hadits
2. Aqidah
3. Akhlak
4. Fiqih
5. Tarikh dan Kebudayaan Islam.
Pendidikan Agama Islam menekankan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan diri sendiri, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

BAB II
KAJIAN TEORI
Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adalah mewujudkan tujuan ajaran Allah .
Menurut Hasan Langgulung Pendidikan Islam ialah pendidikan yang memiliki empat macam fungsi yaitu :
1. Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup masyarakat sendiri.
2. Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda.
3. Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban.
4. Mendidik anak agar beramal di dunia ini untuk memetik hasil di akhirat.
An-Naquib Al-Atas yang dikutip oleh Ali mengartikan pendidikan Islam ialah usaha yang dialakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan.
Adapun Mukhtar Bukhari yang dikutip oleh Halim Soebahar mengartikan pendidikan Ialam adalah seganap kegiatan yang dilakukan seseorang atau suatu lembaga untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa dan keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan yang mendasarkan program pendidikan atau pandangan dan nilai-nilai Islam.
Pendidikan Islam adalah jenis pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraan didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita untuk mengejewantahkan nilai-nilai Islam baik yang tercermin dalam nama lembaga maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan.
Kendati dalam peta pemikiran Islam upaya menghubungkan Islam dengan pendidikan masih diwarnai banyak perdebatan namun yang pasti relasi Islam dengan pendidikan bagaikan dua sisi mata uang mereka sejak awal mempunyai hubungan filosofis yang sangat mendasar baik secara ontologis epistimologis maupun aksiologis.
Yang dimaksud dengan pendidikan Islam disini adalah : pertama ia merupakan suatu upaya atau proses yang dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan asuhan bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal agar nanti dapat memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai keyakinan dan pandangan hidup demi keselamatan di dunia dan akherat. Kedua merupakan usaha yang sistimatis pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau tiap individu dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh demi terbentuk kepribadian yang utama menurut ukuran Islam. Dan ketiga merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik untuk diarahkan mengikuti jalan yang Islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat.
Pendidikan Islam sebagaimana rumusan diatas menurut Abd Halim Subahar memiliki beberapa prinsip yang membedakan dengan pendidikan lain Prinsip Pendidikan Islam antara lain :
1. Prinsip tauhid
2. Prinsip Integrasi
3. Prinsip Keseimbangan
4. Prinsip persamaan
5. Prinsip pendidikan seumur hidup dan
6. Prinsip keutamaan.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. PERMASALAHAN YANG TERJADI
Pendidikan Islam dihadapkan dan terperangkap pada persoalan yang sama, bahkan apabila diamati dan kemudian disimpulkan pendidikan Islam terkukung dalam kemunduran, keterbelakangan, ketidak berdayaan, dan kemiskinan, sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara dan masyarakat Islam dibandingkan dengan mereka yang non Islam. Katakan saja, pendidikan Islam terjebak dalam lingkaran yang tak kunjung selesai yaitu persoalan tuntutan kualitas, relevansi dengan kebutuhan, perubahan zaman, dan bahkan pendidikan apabila diberi “embel-embel Islam”, dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan, meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan (Soeroyo, 1991: 77). Tetapi pendidikan Islam dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua atau posisi marginal dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia.
Dalam Undang-Undang sistem pendidikan nasional menyebutkan pendidikan Islam merupakan sub-sistem pendidikan nasional. Jadi sistem pendidikan itu satu yaitu memanusiakan manusia, tetapi pendidikan memiliki banyak wajah, sifat, jenis dan jenjang [pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat, pondok pesantren, madrasah, program diploma, sekolah tinggi, institusi, universitas, dsb], dan hakekat pendidikan adalah mengembangkan harkat dan martabat manusia, memanusiakan manusia agar benar-benar mampu menjadi khalifah (Mastuhu, 2003). Pendidikan Islam menjadi satu dalam sistem pendidikan nasional, tetapi predikat keterbelakangan dan kemunduran tetap melekat padanya, bahkan pendidikan Islam sering “dinobatkan” hanya untuk kepentingan orang-orang yang tidak mampu atau miskin, memproduk orang yang eksklusif, fanatik, dan bahkan pada tingkah yang sangat menyedihkan yaitu “terorisme-pun” dianggap berasal dari lembaga pendidikan Islam, karena pada kenyataannya beberapa lembaga pendidikan Islam “dianggap” sebagai tempat berasalnya kelompok tersebut. Walaupun “anggapan” ini keliru dan dapat ditolak, sebab tidak ada lembaga-lembaga pendidikan Islam manapun yang bertujuan untuk memproduk atau mencetak kelompok-kelompok orang seperti itu. Tetapi realitas di masyakarat banyak perilaku kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Apakah ada sesuatu yang salah dalam sistem, proses, dan orientasi pendidikan Islam. Hal ini, merupakan suatu kenyataan yang selama ini dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Olah karena itu, muncul tuntutan masyarakat sebagai pengguna pendidikan Islam agar ada upaya penataan dan modernisasi sistem dan proses pendidikan Islam aga menjadi pendidikan yang bermutu, relevan, dan mampu menjawab perubahan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
Dengan demikian, penataan model, sistem dan proses pendidikan Islam di Indonesia merupakan suatu yang tidak terelakkan. Hemat penulis, strategi pengembangan pendidikan Islam hendaknya dipilih dari kegiatan pendidikan yang paling mendesak, berposisi senteral yang akan menjadi modal dasar untuk usaha penataan dan pengembangan selanjutnya. Katakan saja, perubahan paradigama, visi, misi, tujuan, dana, dan sampai pada program-program pendidikan yang sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan dalam negeri ini, seperti: perubahan kurikulum pendidikan secara terarah dan kontinu agar dapat mengikuti perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi.

3.2. PENATAAN PENDIDIKAN ISLAM
Dari paparan di atas, menurut penulis bahwa inovasi atau penataan fungsi pendidikan Islam harus dilakukan, terutama pada sistem pendidikan persekolahan harus diupayakan secara terus menerus, berkesinambungan, berkelanjutan, sehingga usahanya dapat menjangkau pada perluasan dan pengembangan sistem pendidikan Islam luar sekolah dan menjadikan pendidikan agama islam dapat mencapai tujuan pendidikan sebenarnya. Untuk mencapainya harus dilakukan inovasi kelembagaan dan tenaga kependidikan. Tenaga kependidikan harus ditingkatkan etos kerja dan profesionalismenya. Perbaikan pada aspek materi [kurikulum], pendekatan, dan metodologi yang masih berorientasi pada sistem tradisional, perbaikan pada aspek manajemen pendidikan itu sendiri. Tetapi usaha melakukan inovasi tidak hanya sekedar tanbal sulam, tetapi harus secara mendasar dan menyeluruh, mulai dari fungsi, tujuan, metode, strategi, materi [kurikulum], lembaga pendidikan, dan pengelolaannya. Dengan kata lain, penataan pendidikan Islam haruslah bersifat komprehensif dan menyeluruh, baik pada tingkat konsep maupun penyelenggaraan.
Sesuai yang dibahas dalam makalah ini tentang pendidikan agama islam dalam lingkup SMA, hal ini sangatlah membantu didalam mencapai tujuan pendidikan sebenarnya, Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam lingkup SMA dipelajari berbagai pelajaran yang membahas dan menjelaskan berbagai persoalan kehidupan. Penataan fungsi pendidikan Islam, tentu dengan memperhatikan dunia kerja, sebab dunia kerja mempunyai andil dan rentang waktu yang cukup besar dalam jangka kehidupan pribadi dan kolektif. Dari gambaran tersebut di atas, tanpaknya kita perlu menyusun langkah-langkah strategi sebagai upaya untuk kembali membangkitkan dan menempatkan pendidikan Islam pada peran yang semestinya dengan berusaha menata ulang paradigm pendidikan Islam sehingga pendidikan Islam kembali bersifat aktif-progresif.
Langkah-langkah strategi didalam mencapai tujuan pendidikan khususnya lingkup SMA tersebut diantaranya, yaitu : Pertama,. Perlu menempatkan kembali seluruh aktivitas pendidikan di bawah “kerangka dasar kerja spritual”. Seluruh aktivitas intelektual dan proses pendidikan senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai agama, dimana tujuan akhir dari seluruh aktivitas pendidikan sebagai upaya menegakkan ajaran agama dengan memanusiakan manusia dalam konteks kehidupannya.
Kedua, perlu ada perimbangan [balancing] antara disiplin atau kajian-kajian agama dengan pengembangan intelektualitas dalam program kurikulum pendidikan. Sistem pendidikan Islam harus menganut integrated curriculum, artinya perpaduan, koordinasi, harmonis, dan kebulatan materi-materi pendidikan dengan ajaran Islam. Maka dengan konsep integrated curriculum, proses pendidikan akan memberikan penyeimbangan antara kajian-kajian agama dengan kajian lain [non-agama] dalam pendidikan Islam yang merupakan suatu keharusan, apabila menginginkan pendidikan Islam kembali survive di tengah perubahan masyarakat.
Ketiga, perlu dikembangkan pendidikan yang berwawasan kebebasan, sehingga insan akademik dapat melakukan pengembangan keilmuan secara maksimal.. Kesempatan berijtihad yang selama ini di anggap tertutup juga menjadi malapetaka bagi perkembangan pemikiran “rasional intelektual” dan ikut terkubur. Kita tidak mempunyai ruang bebas untuk mengekspresikan pemikiran, pandangan, dan gagasan. Apabila muncul pemikiran baru yang berbeda dengan mainstream, sering kali dianggap sebagai pengkaburan, penyesetan dan penyimpangan dari agama dan kadang kala, kritik terhadapan pandangan dan pemikiran keagamaanpun dianggap sebagai kritik terhadap otoritas Tuhan, nabi dan lain-lain. Agama kemudian dijadikan sebagai otoritas baru untuk memasung dan mengkerdilkan [membonsai] pemikiran-pemikiran inovatif yang muncul. Maka, dengan upaya menghilangkan atau minimal membuka kembali sekat dan wilayah-wilayah yang selama ini terlarang bagi perdebatan dan kajian, akan menjadikan wilayah pengembangan intelektual semakin luas yang tentu membuka peluang lebar bagi pengembangan keilmuan di dunia pendidikan Islam pada khususnya dan Islam pada umumnya.
Keempat, mulai melakukan strategi pendidikan yang membumi pada kebutuhan nyata masyarakat yang akan menghantarkan peserta didik pada kebutuhan akhirat. Mengembangkan pendidikan Islam berwawasan kebudyaan dan masyarakat, pendidikan yang berwawasan kebebasan dan demokrasi, pendidikan yang menyenangkan dan mencerdaskan. Diperlukan pendidikan yang menghidupkan kembali tradisi intelektual yang bebas, dialogis, inovatif, dan kreatif.
Dalam Pandangan SMA ini kebebasan berpikir mutlak diperlukan untuk melahirkan intelektual-intelektual yang memiliki pandangan keagamaan yang baru, segar, dan jernih. Kita berharap disain pendidikan Islam pada era informasi, era globalisasi, menjadi era berhembusnya kebebasan berpikir, sehingga mendorong lahirnya pemikir-pemikir keagamaan yang memiliki kemampuan bersaing, kritis, transformatif, inovatif, dan konstruktif dalam menghadapi tantang perubahan.

3.3. MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERMUTU DAN UNGGUL
Karena SMA adalah sekolah menengah atas yang menjadi pandangan peserta didik didalam mengembangkan pendidikan agama islam dari SD atau SMP, maka SMA disini berperan sangat penting didalam membentuk kepribadian keislaman peserta didik. Sehingga perlu peningkatan mutu dalam mendidik peserta didik. Mutu pendidikan merupakan hal yang harus diperhatikan dan diupayakan untuk dicapai. Sebab pendidikan akan menjadi sia-sia bila mutu proses dan lulusannya rendah. Saat sekarang ini, ada keinginan dari masyarakat dan berbagai lembaga pendidikan Islam untuk menjadikan pendidikan Islam sebagai salah satu pendidikan alternatif. Tetapi pemikiran ini memerlukan paradigma baru untuk meningkatkan kualitan pendidikannya. A. Mukti Ali mengatakan bahwa kelemahan pendidikan Islam dewasa ini, disebabkan oleh faktor penguasaan sistem dan metode, bahasa sebagai alat untuk memperkaya persepsi, dan ketajaman interpretasi, kelemahan kelembagaan [organisasi], kelemahan ilmu dan teknologi. Apabila hal ini menjadi fokus, maka pendidikan Islam harus didesak untuk melakukan inovasi, tidak hanya terkait dengan kurikulum dan perangkat manajemen, tetapi juga strategi dan taktik operasional dan metodologinya. Strategi dan taktik itu, bahkan sampai menuntut perombakan model-model sampai dengan institusi-institusinya untuk mewujudkan pendidikan Islam yang bermutu dan unggul.
Dan berbicara tentang pendidikan yang mutu dan unggul, tentu saja harus didasarkan pada suatu standar dan ukuran kemajuan tertentu yang terbuka , sehingga public dengan mudah mengikuti dan menilai kemajuan pendidikan yang ada. Apakah pendidikan yang bermutu dan unggul dapat dilihat dari lulusan dengan nilai tinggi atau dilihat dari lulusannya dapat diserap pasar dengan cepat, ataukah dinilai oleh Badan Akreditasi Nasional [BAN] dengan predikat terakreditasi dengan nilai A, B, dan C atau tidak terakreditasi
Pendidikan mutu dan unggul, apakah dilihat dari nilai yang diperoleh para lulusannya. Pertanyaan lulusan berkualitas seperti apa yang dianggap mutu dan unggul ? Misalnya saja para siswa dan sarjana yang lulus dengan nilai tinggi, apa yang akan mereka dapatkan? Realitas menunjukkan banyak siswa lulus SLTA memiliki nilai tinggi, tapi tidak dapat meneruskan ke perguruan tinggi, karena disebabkan oleh biaya, orang tua tidak mampu. Sarjana lulus dengan nilai tinggi, ujung-ujungnya menjadi buruh/pedagang, pengangguran, lantaran tidak memiliki koneksi, walaupun hal yang ditekuni dan dikerjakan memang tidak salah, tetapi tidak macht atau mismacht dengan pendidikan yang ditekuni. Inilah kondisi yang dihadapi pendidikan di negeri ini. Selain itu, manusia unggul seperti apa yang dikehendaki dari prodak pendidikan, karena bukan sekedar pendidikan yang unggulan. Dalam konteks historis, manusia yang dapat dijadikan teladan adalah menusia yang dikategori unggulan bukanlah semata-mata ditentukan lembaga pendidikan yang membesarkannya, malahan lebih banyak dihasilkan oleh keluarga atau masyarakat yang mengelilinginya.
Lembaga pendidikan pesantren, biayanya murah, santri banyak yang gratis, dianggap tradisonal, tetapi banyak melahirkan para pahlawan, para tokoh pemikir bangsa. Maka dalam konteks ini, proses pendidikan di pesantren lebih berlaku dan faktor utamanya adalah keteladanan, kesungguhan, kerendahan hati, kesederhanaan, keikhlasan, yang dibangun oleh kiai dan para gurunya dalam proses, tetapi nilai-nilai ini pada zaman sekarang lebih mendapatkan respons yang kurang baik. Dari sekian pertanyaan di atas, dapat dikatakan bahwa pendidikan yang bermutu dan unggul adalah memiliki visi, misi, dan tujuan yang jelas, memiliki program pendidikan dan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, inovatif dan pengembangan ilmu dan teknologi, memiliki sumber daya yang profesional, memiliki manajemen yang profesional dan bertanggungjawab. Lulusannya memiliki standar kompetensi pengetahuan [knowledge] kognitif yang memadai, memiliki kemampuani afektif yang anggun, yaitu memiliki kepribadian dan moral yang tinggi, jujur, bertanggungjawan, dan bersamangat untuk melakukan inovasi, memiliki kemampuan psikomotorik yang tinggi, memiliki skill untuk menjawab kabutuhan masyarakat, melakukan kegiatan secara terampil, dan memiliki kemampuan bertindak yaitu menghasilkan sesuatu yang konkrit dan menghasilkan jasa, serta dapat diserap pasar atau pengguna pendidikan.
Dengan dasar ini, maka pendidikan Islam perlu membangun sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas, dilandasai dengan nilai-nilai ilahiyah, kemanusian [insaniyah], lingkungan dan berbudaya, manajemen pendidikan dengan berorientasi pada profesionalisme dan mutu, menyerap aspirasi dan mendayagunakan potensi masyarakat, berorientasi pada otonomi, meningkatkan demokratisasi penyenggaraan pendidikan, serta memenuhi permintaan perubahan arus globalisasi. Katakan saja, konsep hasil belajar yang lebih baik tentu saja berorientasi pada kemampuan kognitif, psikomotorik, afektik, dan tindakan. Kemampuan bertindak terkait erat dengan pendidikan life skills, artinya ketika lulusan dari satuan pendidikan Islam, sudah memiliki pengalaman yang cukup memadai dari kehidupan pendidikannya untuk melakukan sesuatu di masyarakat, yaitu berkewajiban mencari, menemukan dan memanfaatkan ilmu bagi keperluan kehidupan umat manusia, sekaligus juga harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi selanjutnya jika dengan ilmu itu menimbulkan kerusakan lingkngan.
Dalam kerangka ini, menurut penulis pendidikan Islam harus berupaya untuk: Pertama, mengembangkan konsep pendidikan integralistik, yaitu pendidikan secara utuh yang berorientasi pada Ketuhanan, kemanusiaan dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integralistik bagi perwujudan kehidupan yang rahmatan lil ‘Alamin. Kedua, mengembangkan konsep pendidikan humanistik, yaitu pendidikan yang berorieintasi dan memandang manusia sebagai manusia [humanisasi] dengan menghargai hah-hak asasi manusia, hak untuk menyuarakan pendapat walaupun berbeda, mengembangkan potensi berpikir, berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Ketiga, mengembangkan konsep pendidikan pragmatis, yaitu memandang manusia sebagai makhluk yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidupnya baik jasmani maupun rohani dan mewujudkan manusia yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan peka terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Keempat, mengembangkan konsep pendidikan yang berakar pada budaya yang akan dapat mewujudkan manusia yang mempunyai kepribadiaan, harga diri, percaya pada kemampuan sendiri, membangun budaya berdasarkan budaya sendiri dan berdasarkan nilai-nilai ilahiyah
Dari semua dipaparkan di atas, kita harus berani menata dan mendesain ulang model pendidikan Islam yang berkualitas dan bermutu, dengan merumuskan visi, misi, serta tujuan yang jelas, kurikulum, dan meteri pembelajaran yang diorientasikan pada kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat untuk dapat menjawab tantangan perubahan, metode pembelajaran diorientasikan kepada upaya mencari dan mecahkan masalah yang berorientasi pada ”menjadi”, dan bukan didominasi oleh model ceramah yang berorientasi pada hanya ”memiliki”. Oleh karena itu, membangun jiwa kemandirian, kreativitas, kepekaan sosial, dan keberanian berpikir untuk menghadapi realitas kehidupan harus dikembang dalam proses pendidikan. Kata Ahmad Baharuddin, pendidikan dan pembelajaran berbasis ”kebutuhan”, sehingga puncak keberhasilan pembelajaran adalah ketika pembelajar menemukan sendiri, berkemampuan mengevaluasi diri sendiri, sehingga pembelajar tahu persis potensi yang dimilikinya. Dengan demikian, penilaian terhadap mutu dan unggul suatu pendidikan tidak perlu direkayasa dan diformalkan, tetapi akan datang dengan sendirinya dari masyarakat pengguna.

BAB IV
KESIMPULAN
Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adalah mewujudkan tujuan ajaran Allah .
Kata akhir, Karena SMA adalah sekolah menengah atas yang menjadi pandangan peserta didik didalam mengembangkan pendidikan agama islam dari SD atau SMP, maka SMA disini berperan sangat penting didalam membentuk kepribadian keislaman peserta didik. Sehingga perlu peningkatan mutu dalam mendidik peserta didik. Mutu pendidikan merupakan hal yang harus diperhatikan dan diupayakan untuk dicapai. Sebab pendidikan akan menjadi sia-sia bila mutu proses dan lulusannya rendah. Penilaian dan pengakuan terhadap pendidikan yang mutu dan unggul atau tidak, akan lebih banyak di tentukan oleh masyarakat profesional. Dengan kata lain, bahwa masyarakat profesional yang akan menjadi penilai [quality control] dari lembaga pendidikan yang ada. Kontrol dilakukan dari kemampuan para lulusan lembaga pendidikan tersebut, dengan program-program pembelajarannya, dosen dan guru di nilai oleh masyarakat. Maka, pendidikan Islam berusaha melakukan penataan terhadap program-program pendidikannya agar mencapai standar mutu dan unggul yaitu lulusannya memiliki kompetensi pengetahuan yang memadai, memiliki afektif yang anggun, memiliki skill untuk dapat menjawab kabutuhan masyarakat, dan dapat diserap oleh pengguna pendidikan, apabila tidak maka akan menjadi sia-sia, bila mutu proses dan lulusannya rendah.

DAFTAR PUSTAKA
KTSP SMA Tahun 2006
Poernadarminta. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN. Balai Pustaka
Rama, Tri. 2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Agung
Team Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum Negeri Departemen Agama Pusat. 1994. Pendidikan Agama Islam untuk SMA. Bandung: Lubuk Agung

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Desember 2011 in Makalah Pendidikan Agama Islam

 

MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMA

Anda dapat mendownload artikel dibawah ini disini

MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMA

A. Latar Belakang
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, di Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan maupun masyarakat.
Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar kompetesi sesuai dengan jenjang pendidikan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri:

1. lebih menitik beratkan pencapaian kompetensi secata utuh selain penguasaaan materi;
2. mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia;
3. memberiklan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran seauai dengan kebutuhan dan ketersedian sumber daya pendidikan.

Pendidikan Agama Islam diharapkan menghasilkan manusia yang selalu berupaya menyempurnakan iman, takwa, dan akhlak, serta aktif membangun peradaban dan keharmonisan kehidupan, khususnya dalam memajukan peradaban bangsa yang bermartabat. Manusia seperti itu diharapkan tangguh dalam menghadapi tantangan, hambatan, dan perubahan yang muncul dalam pergaulan masyarakat baik dalam lingkup lokal, nasional, regional maupun global.

Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pencapaian seluruh kompetensi dasar perilaku terpuji dapat dilakukan tidak beraturan. Peran semua unsur Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan, orang tua peserta didik dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam.

B. Tujuan
Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk:
1. menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT;
2. mewujudkan manuasia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas masyarakat.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Al Qur’an dan Hadits
2. Aqidah
3. Akhlak
4. Fiqih
5. Tarikh dan Kebudayaan Islam.
Pendidikan Agama Islam menekankan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan diri sendiri, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Desember 2011 in Makalah Pendidikan Agama Islam

 

Upaya PAI dalam lingkup SMA

anda dapat mendownload makalah dibawah ini disini

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Menyadari betapa pentingnya peran agama bagi kehidupan umat manusia maka internalisasi nilai-nilai agama dalam kehidupan setiap pribadi menjadi sebuah keniscayaan, yang ditempuh melalui pendidikan baik pendidikan di lingkungan keluarga, di Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan maupun masyarakat.
Pendidikan Agama dimaksudkan untuk peningkatan potensi spiritual dan membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhlak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan Agama. Peningkatan potensi spritual mencakup pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan.
Pendidikan Agama Islam diberikan dengan mengikuti tuntunan bahwa agama diajarkan kepada manusia dengan visi untuk mewujudkan manusia yang bertidakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta bertujuan untuk menghasilkan manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis dan produktif, baik personal maupun sosial. Tuntutan visi ini mendorong dikembangkannya standar kompetesi sesuai dengan jenjang pendidikan yang secara nasional ditandai dengan ciri-ciri:

1. Lebih menitik beratkan pencapaian kompetensi secata utuh selain penguasaaan materi;
2. Mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia;
3. Memberiklan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan untuk mengembangkan strategi dan program pembelajaran seauai dengan kebutuhan dan ketersedian sumber daya pendidikan.

Pendidik diharapkan dapat mengembangkan metode pembelajaran sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. Pencapaian seluruh kompetensi dasar perilaku terpuji dapat dilakukan tidak beraturan. Peran semua unsur Satuan pendidikan nonformal penyelenggara pendidikan kesetaraan, orang tua peserta didik dan masyarakat sangat penting dalam mendukung keberhasilan pencapaian tujuan Pendidikan Agama Islam.

1.2. Tujuan
Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk:
1. Menumbuhkembangkan akidah melalui pemberian, pemupukan, dan pengembangan pengetahuan, penghayatan, pengamalan, pembiasaan, serta pengalaman peserta didik tentang agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang terus berkembang keimanan dan ketakwaannya kepada Allah SWT;
2. Mewujudkan manuasia Indonesia yang taat beragama dan berakhlak mulia yaitu manusia yang berpengetahuan, rajin beribadah, cerdas, produktif, jujur, adil, etis, berdisiplin, bertoleransi (tasamuh), menjaga keharmonisan secara personal dan sosial serta mengembangkan budaya agama dalam komunitas masyarakat.

1.3. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Pendidikan Agama Islam didalam lingkup SMA meliputi aspek-aspek sebagai berikut.
1. Al Qur’an dan Hadits
2. Aqidah
3. Akhlak
4. Fiqih
5. Tarikh dan Kebudayaan Islam.
Pendidikan Agama Islam menekankan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesama manusia, hubungan manusia dengan diri sendiri, dan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

BAB II
KAJIAN TEORI
Pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani dan rohani menuju terbentuk kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain Pendidikan Islam merupakan suatu bentuk kepribadian utama yakni kepribadian muslim. kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adalah mewujudkan tujuan ajaran Allah .
Menurut Hasan Langgulung Pendidikan Islam ialah pendidikan yang memiliki empat macam fungsi yaitu :
1. Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup masyarakat sendiri.
2. Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda.
3. Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memilihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup suatu masyarakat dan peradaban.
4. Mendidik anak agar beramal di dunia ini untuk memetik hasil di akhirat.
An-Naquib Al-Atas yang dikutip oleh Ali mengartikan pendidikan Islam ialah usaha yang dialakukan pendidik terhadap anak didik untuk pengenalan dan pengakuan tempat-tempat yang benar dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sehingga membimbing kearah pengenalan dan pengakuan akan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan.
Adapun Mukhtar Bukhari yang dikutip oleh Halim Soebahar mengartikan pendidikan Ialam adalah seganap kegiatan yang dilakukan seseorang atau suatu lembaga untuk menanamkan nilai-nilai Islam dalam diri sejumlah siswa dan keseluruhan lembaga-lembaga pendidikan yang mendasarkan program pendidikan atau pandangan dan nilai-nilai Islam.
Pendidikan Islam adalah jenis pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraan didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita untuk mengejewantahkan nilai-nilai Islam baik yang tercermin dalam nama lembaga maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan.
Kendati dalam peta pemikiran Islam upaya menghubungkan Islam dengan pendidikan masih diwarnai banyak perdebatan namun yang pasti relasi Islam dengan pendidikan bagaikan dua sisi mata uang mereka sejak awal mempunyai hubungan filosofis yang sangat mendasar baik secara ontologis epistimologis maupun aksiologis.
Yang dimaksud dengan pendidikan Islam disini adalah : pertama ia merupakan suatu upaya atau proses yang dilakukan secara sadar dan terencana membantu peserta didik melalui pembinaan asuhan bimbingan dan pengembangan potensi mereka secara optimal agar nanti dapat memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam sebagai keyakinan dan pandangan hidup demi keselamatan di dunia dan akherat. Kedua merupakan usaha yang sistimatis pragmatis dan metodologis dalam membimbing anak didik atau tiap individu dalam memahami menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara utuh demi terbentuk kepribadian yang utama menurut ukuran Islam. Dan ketiga merupakan segala upaya pembinaan dan pengembangan potensi anak didik untuk diarahkan mengikuti jalan yang Islami demi memperoleh keutamaan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat.
Pendidikan Islam sebagaimana rumusan diatas menurut Abd Halim Subahar memiliki beberapa prinsip yang membedakan dengan pendidikan lain Prinsip Pendidikan Islam antara lain :
1. Prinsip tauhid
2. Prinsip Integrasi
3. Prinsip Keseimbangan
4. Prinsip persamaan
5. Prinsip pendidikan seumur hidup dan
6. Prinsip keutamaan.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. PERMASALAHAN YANG TERJADI
Pendidikan Islam dihadapkan dan terperangkap pada persoalan yang sama, bahkan apabila diamati dan kemudian disimpulkan pendidikan Islam terkukung dalam kemunduran, keterbelakangan, ketidak berdayaan, dan kemiskinan, sebagaimana pula yang dialami oleh sebagian besar negara dan masyarakat Islam dibandingkan dengan mereka yang non Islam. Katakan saja, pendidikan Islam terjebak dalam lingkaran yang tak kunjung selesai yaitu persoalan tuntutan kualitas, relevansi dengan kebutuhan, perubahan zaman, dan bahkan pendidikan apabila diberi “embel-embel Islam”, dianggap berkonotasi kemunduran dan keterbelakangan, meskipun sekarang secara berangsur-angsur banyak diantara lembaga pendidikan Islam yang telah menunjukkan kemajuan (Soeroyo, 1991: 77). Tetapi pendidikan Islam dipandang selalu berada pada posisi deretan kedua atau posisi marginal dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia.
Dalam Undang-Undang sistem pendidikan nasional menyebutkan pendidikan Islam merupakan sub-sistem pendidikan nasional. Jadi sistem pendidikan itu satu yaitu memanusiakan manusia, tetapi pendidikan memiliki banyak wajah, sifat, jenis dan jenjang [pendidikan keluarga, sekolah, masyarakat, pondok pesantren, madrasah, program diploma, sekolah tinggi, institusi, universitas, dsb], dan hakekat pendidikan adalah mengembangkan harkat dan martabat manusia, memanusiakan manusia agar benar-benar mampu menjadi khalifah (Mastuhu, 2003). Pendidikan Islam menjadi satu dalam sistem pendidikan nasional, tetapi predikat keterbelakangan dan kemunduran tetap melekat padanya, bahkan pendidikan Islam sering “dinobatkan” hanya untuk kepentingan orang-orang yang tidak mampu atau miskin, memproduk orang yang eksklusif, fanatik, dan bahkan pada tingkah yang sangat menyedihkan yaitu “terorisme-pun” dianggap berasal dari lembaga pendidikan Islam, karena pada kenyataannya beberapa lembaga pendidikan Islam “dianggap” sebagai tempat berasalnya kelompok tersebut. Walaupun “anggapan” ini keliru dan dapat ditolak, sebab tidak ada lembaga-lembaga pendidikan Islam manapun yang bertujuan untuk memproduk atau mencetak kelompok-kelompok orang seperti itu. Tetapi realitas di masyakarat banyak perilaku kekerasan yang mengatasnamakan Islam. Apakah ada sesuatu yang salah dalam sistem, proses, dan orientasi pendidikan Islam. Hal ini, merupakan suatu kenyataan yang selama ini dihadapi oleh lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Olah karena itu, muncul tuntutan masyarakat sebagai pengguna pendidikan Islam agar ada upaya penataan dan modernisasi sistem dan proses pendidikan Islam aga menjadi pendidikan yang bermutu, relevan, dan mampu menjawab perubahan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia.
Dengan demikian, penataan model, sistem dan proses pendidikan Islam di Indonesia merupakan suatu yang tidak terelakkan. Hemat penulis, strategi pengembangan pendidikan Islam hendaknya dipilih dari kegiatan pendidikan yang paling mendesak, berposisi senteral yang akan menjadi modal dasar untuk usaha penataan dan pengembangan selanjutnya. Katakan saja, perubahan paradigama, visi, misi, tujuan, dana, dan sampai pada program-program pendidikan yang sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan dalam negeri ini, seperti: perubahan kurikulum pendidikan secara terarah dan kontinu agar dapat mengikuti perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi.

3.2. PENATAAN PENDIDIKAN ISLAM
Dari paparan di atas, menurut penulis bahwa inovasi atau penataan fungsi pendidikan Islam harus dilakukan, terutama pada sistem pendidikan persekolahan harus diupayakan secara terus menerus, berkesinambungan, berkelanjutan, sehingga usahanya dapat menjangkau pada perluasan dan pengembangan sistem pendidikan Islam luar sekolah dan menjadikan pendidikan agama islam dapat mencapai tujuan pendidikan sebenarnya. Untuk mencapainya harus dilakukan inovasi kelembagaan dan tenaga kependidikan. Tenaga kependidikan harus ditingkatkan etos kerja dan profesionalismenya. Perbaikan pada aspek materi [kurikulum], pendekatan, dan metodologi yang masih berorientasi pada sistem tradisional, perbaikan pada aspek manajemen pendidikan itu sendiri. Tetapi usaha melakukan inovasi tidak hanya sekedar tanbal sulam, tetapi harus secara mendasar dan menyeluruh, mulai dari fungsi, tujuan, metode, strategi, materi [kurikulum], lembaga pendidikan, dan pengelolaannya. Dengan kata lain, penataan pendidikan Islam haruslah bersifat komprehensif dan menyeluruh, baik pada tingkat konsep maupun penyelenggaraan.
Sesuai yang dibahas dalam makalah ini tentang pendidikan agama islam dalam lingkup SMA, hal ini sangatlah membantu didalam mencapai tujuan pendidikan sebenarnya, Dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam lingkup SMA dipelajari berbagai pelajaran yang membahas dan menjelaskan berbagai persoalan kehidupan. Penataan fungsi pendidikan Islam, tentu dengan memperhatikan dunia kerja, sebab dunia kerja mempunyai andil dan rentang waktu yang cukup besar dalam jangka kehidupan pribadi dan kolektif. Dari gambaran tersebut di atas, tanpaknya kita perlu menyusun langkah-langkah strategi sebagai upaya untuk kembali membangkitkan dan menempatkan pendidikan Islam pada peran yang semestinya dengan berusaha menata ulang paradigm pendidikan Islam sehingga pendidikan Islam kembali bersifat aktif-progresif.
Langkah-langkah strategi didalam mencapai tujuan pendidikan khususnya lingkup SMA tersebut diantaranya, yaitu : Pertama,. Perlu menempatkan kembali seluruh aktivitas pendidikan di bawah “kerangka dasar kerja spritual”. Seluruh aktivitas intelektual dan proses pendidikan senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai agama, dimana tujuan akhir dari seluruh aktivitas pendidikan sebagai upaya menegakkan ajaran agama dengan memanusiakan manusia dalam konteks kehidupannya.
Kedua, perlu ada perimbangan [balancing] antara disiplin atau kajian-kajian agama dengan pengembangan intelektualitas dalam program kurikulum pendidikan. Sistem pendidikan Islam harus menganut integrated curriculum, artinya perpaduan, koordinasi, harmonis, dan kebulatan materi-materi pendidikan dengan ajaran Islam. Maka dengan konsep integrated curriculum, proses pendidikan akan memberikan penyeimbangan antara kajian-kajian agama dengan kajian lain [non-agama] dalam pendidikan Islam yang merupakan suatu keharusan, apabila menginginkan pendidikan Islam kembali survive di tengah perubahan masyarakat.
Ketiga, perlu dikembangkan pendidikan yang berwawasan kebebasan, sehingga insan akademik dapat melakukan pengembangan keilmuan secara maksimal.. Kesempatan berijtihad yang selama ini di anggap tertutup juga menjadi malapetaka bagi perkembangan pemikiran “rasional intelektual” dan ikut terkubur. Kita tidak mempunyai ruang bebas untuk mengekspresikan pemikiran, pandangan, dan gagasan. Apabila muncul pemikiran baru yang berbeda dengan mainstream, sering kali dianggap sebagai pengkaburan, penyesetan dan penyimpangan dari agama dan kadang kala, kritik terhadapan pandangan dan pemikiran keagamaanpun dianggap sebagai kritik terhadap otoritas Tuhan, nabi dan lain-lain. Agama kemudian dijadikan sebagai otoritas baru untuk memasung dan mengkerdilkan [membonsai] pemikiran-pemikiran inovatif yang muncul. Maka, dengan upaya menghilangkan atau minimal membuka kembali sekat dan wilayah-wilayah yang selama ini terlarang bagi perdebatan dan kajian, akan menjadikan wilayah pengembangan intelektual semakin luas yang tentu membuka peluang lebar bagi pengembangan keilmuan di dunia pendidikan Islam pada khususnya dan Islam pada umumnya.
Keempat, mulai melakukan strategi pendidikan yang membumi pada kebutuhan nyata masyarakat yang akan menghantarkan peserta didik pada kebutuhan akhirat. Mengembangkan pendidikan Islam berwawasan kebudyaan dan masyarakat, pendidikan yang berwawasan kebebasan dan demokrasi, pendidikan yang menyenangkan dan mencerdaskan. Diperlukan pendidikan yang menghidupkan kembali tradisi intelektual yang bebas, dialogis, inovatif, dan kreatif.
Dalam Pandangan SMA ini kebebasan berpikir mutlak diperlukan untuk melahirkan intelektual-intelektual yang memiliki pandangan keagamaan yang baru, segar, dan jernih. Kita berharap disain pendidikan Islam pada era informasi, era globalisasi, menjadi era berhembusnya kebebasan berpikir, sehingga mendorong lahirnya pemikir-pemikir keagamaan yang memiliki kemampuan bersaing, kritis, transformatif, inovatif, dan konstruktif dalam menghadapi tantang perubahan.

3.3. MENUJU PENDIDIKAN ISLAM BERMUTU DAN UNGGUL
Karena SMA adalah sekolah menengah atas yang menjadi pandangan peserta didik didalam mengembangkan pendidikan agama islam dari SD atau SMP, maka SMA disini berperan sangat penting didalam membentuk kepribadian keislaman peserta didik. Sehingga perlu peningkatan mutu dalam mendidik peserta didik. Mutu pendidikan merupakan hal yang harus diperhatikan dan diupayakan untuk dicapai. Sebab pendidikan akan menjadi sia-sia bila mutu proses dan lulusannya rendah. Saat sekarang ini, ada keinginan dari masyarakat dan berbagai lembaga pendidikan Islam untuk menjadikan pendidikan Islam sebagai salah satu pendidikan alternatif. Tetapi pemikiran ini memerlukan paradigma baru untuk meningkatkan kualitan pendidikannya. A. Mukti Ali mengatakan bahwa kelemahan pendidikan Islam dewasa ini, disebabkan oleh faktor penguasaan sistem dan metode, bahasa sebagai alat untuk memperkaya persepsi, dan ketajaman interpretasi, kelemahan kelembagaan [organisasi], kelemahan ilmu dan teknologi. Apabila hal ini menjadi fokus, maka pendidikan Islam harus didesak untuk melakukan inovasi, tidak hanya terkait dengan kurikulum dan perangkat manajemen, tetapi juga strategi dan taktik operasional dan metodologinya. Strategi dan taktik itu, bahkan sampai menuntut perombakan model-model sampai dengan institusi-institusinya untuk mewujudkan pendidikan Islam yang bermutu dan unggul.
Dan berbicara tentang pendidikan yang mutu dan unggul, tentu saja harus didasarkan pada suatu standar dan ukuran kemajuan tertentu yang terbuka , sehingga public dengan mudah mengikuti dan menilai kemajuan pendidikan yang ada. Apakah pendidikan yang bermutu dan unggul dapat dilihat dari lulusan dengan nilai tinggi atau dilihat dari lulusannya dapat diserap pasar dengan cepat, ataukah dinilai oleh Badan Akreditasi Nasional [BAN] dengan predikat terakreditasi dengan nilai A, B, dan C atau tidak terakreditasi
Pendidikan mutu dan unggul, apakah dilihat dari nilai yang diperoleh para lulusannya. Pertanyaan lulusan berkualitas seperti apa yang dianggap mutu dan unggul ? Misalnya saja para siswa dan sarjana yang lulus dengan nilai tinggi, apa yang akan mereka dapatkan? Realitas menunjukkan banyak siswa lulus SLTA memiliki nilai tinggi, tapi tidak dapat meneruskan ke perguruan tinggi, karena disebabkan oleh biaya, orang tua tidak mampu. Sarjana lulus dengan nilai tinggi, ujung-ujungnya menjadi buruh/pedagang, pengangguran, lantaran tidak memiliki koneksi, walaupun hal yang ditekuni dan dikerjakan memang tidak salah, tetapi tidak macht atau mismacht dengan pendidikan yang ditekuni. Inilah kondisi yang dihadapi pendidikan di negeri ini. Selain itu, manusia unggul seperti apa yang dikehendaki dari prodak pendidikan, karena bukan sekedar pendidikan yang unggulan. Dalam konteks historis, manusia yang dapat dijadikan teladan adalah menusia yang dikategori unggulan bukanlah semata-mata ditentukan lembaga pendidikan yang membesarkannya, malahan lebih banyak dihasilkan oleh keluarga atau masyarakat yang mengelilinginya.
Lembaga pendidikan pesantren, biayanya murah, santri banyak yang gratis, dianggap tradisonal, tetapi banyak melahirkan para pahlawan, para tokoh pemikir bangsa. Maka dalam konteks ini, proses pendidikan di pesantren lebih berlaku dan faktor utamanya adalah keteladanan, kesungguhan, kerendahan hati, kesederhanaan, keikhlasan, yang dibangun oleh kiai dan para gurunya dalam proses, tetapi nilai-nilai ini pada zaman sekarang lebih mendapatkan respons yang kurang baik. Dari sekian pertanyaan di atas, dapat dikatakan bahwa pendidikan yang bermutu dan unggul adalah memiliki visi, misi, dan tujuan yang jelas, memiliki program pendidikan dan pembelajaran yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat, inovatif dan pengembangan ilmu dan teknologi, memiliki sumber daya yang profesional, memiliki manajemen yang profesional dan bertanggungjawab. Lulusannya memiliki standar kompetensi pengetahuan [knowledge] kognitif yang memadai, memiliki kemampuani afektif yang anggun, yaitu memiliki kepribadian dan moral yang tinggi, jujur, bertanggungjawan, dan bersamangat untuk melakukan inovasi, memiliki kemampuan psikomotorik yang tinggi, memiliki skill untuk menjawab kabutuhan masyarakat, melakukan kegiatan secara terampil, dan memiliki kemampuan bertindak yaitu menghasilkan sesuatu yang konkrit dan menghasilkan jasa, serta dapat diserap pasar atau pengguna pendidikan.
Dengan dasar ini, maka pendidikan Islam perlu membangun sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas, dilandasai dengan nilai-nilai ilahiyah, kemanusian [insaniyah], lingkungan dan berbudaya, manajemen pendidikan dengan berorientasi pada profesionalisme dan mutu, menyerap aspirasi dan mendayagunakan potensi masyarakat, berorientasi pada otonomi, meningkatkan demokratisasi penyenggaraan pendidikan, serta memenuhi permintaan perubahan arus globalisasi. Katakan saja, konsep hasil belajar yang lebih baik tentu saja berorientasi pada kemampuan kognitif, psikomotorik, afektik, dan tindakan. Kemampuan bertindak terkait erat dengan pendidikan life skills, artinya ketika lulusan dari satuan pendidikan Islam, sudah memiliki pengalaman yang cukup memadai dari kehidupan pendidikannya untuk melakukan sesuatu di masyarakat, yaitu berkewajiban mencari, menemukan dan memanfaatkan ilmu bagi keperluan kehidupan umat manusia, sekaligus juga harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi selanjutnya jika dengan ilmu itu menimbulkan kerusakan lingkngan.
Dalam kerangka ini, menurut penulis pendidikan Islam harus berupaya untuk: Pertama, mengembangkan konsep pendidikan integralistik, yaitu pendidikan secara utuh yang berorientasi pada Ketuhanan, kemanusiaan dan alam pada umumnya sebagai suatu yang integralistik bagi perwujudan kehidupan yang rahmatan lil ‘Alamin. Kedua, mengembangkan konsep pendidikan humanistik, yaitu pendidikan yang berorieintasi dan memandang manusia sebagai manusia [humanisasi] dengan menghargai hah-hak asasi manusia, hak untuk menyuarakan pendapat walaupun berbeda, mengembangkan potensi berpikir, berkemauan dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Ketiga, mengembangkan konsep pendidikan pragmatis, yaitu memandang manusia sebagai makhluk yang selalu membutuhkan sesuatu untuk melangsungkan, mempertahankan dan mengembangkan hidupnya baik jasmani maupun rohani dan mewujudkan manusia yang sadar akan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan peka terhadap masalah-masalah kemanusiaan. Keempat, mengembangkan konsep pendidikan yang berakar pada budaya yang akan dapat mewujudkan manusia yang mempunyai kepribadiaan, harga diri, percaya pada kemampuan sendiri, membangun budaya berdasarkan budaya sendiri dan berdasarkan nilai-nilai ilahiyah
Dari semua dipaparkan di atas, kita harus berani menata dan mendesain ulang model pendidikan Islam yang berkualitas dan bermutu, dengan merumuskan visi, misi, serta tujuan yang jelas, kurikulum, dan meteri pembelajaran yang diorientasikan pada kebutuhan peserta didik dan kebutuhan masyarakat untuk dapat menjawab tantangan perubahan, metode pembelajaran diorientasikan kepada upaya mencari dan mecahkan masalah yang berorientasi pada ”menjadi”, dan bukan didominasi oleh model ceramah yang berorientasi pada hanya ”memiliki”. Oleh karena itu, membangun jiwa kemandirian, kreativitas, kepekaan sosial, dan keberanian berpikir untuk menghadapi realitas kehidupan harus dikembang dalam proses pendidikan. Kata Ahmad Baharuddin, pendidikan dan pembelajaran berbasis ”kebutuhan”, sehingga puncak keberhasilan pembelajaran adalah ketika pembelajar menemukan sendiri, berkemampuan mengevaluasi diri sendiri, sehingga pembelajar tahu persis potensi yang dimilikinya. Dengan demikian, penilaian terhadap mutu dan unggul suatu pendidikan tidak perlu direkayasa dan diformalkan, tetapi akan datang dengan sendirinya dari masyarakat pengguna.

BAB IV
KESIMPULAN
Pendidikan Islam merupakan pendidikan yang bertujuan membentuk individu menjadi makhluk yang bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah dan isi pendidikan adalah mewujudkan tujuan ajaran Allah .
Kata akhir, Karena SMA adalah sekolah menengah atas yang menjadi pandangan peserta didik didalam mengembangkan pendidikan agama islam dari SD atau SMP, maka SMA disini berperan sangat penting didalam membentuk kepribadian keislaman peserta didik. Sehingga perlu peningkatan mutu dalam mendidik peserta didik. Mutu pendidikan merupakan hal yang harus diperhatikan dan diupayakan untuk dicapai. Sebab pendidikan akan menjadi sia-sia bila mutu proses dan lulusannya rendah. Penilaian dan pengakuan terhadap pendidikan yang mutu dan unggul atau tidak, akan lebih banyak di tentukan oleh masyarakat profesional. Dengan kata lain, bahwa masyarakat profesional yang akan menjadi penilai [quality control] dari lembaga pendidikan yang ada. Kontrol dilakukan dari kemampuan para lulusan lembaga pendidikan tersebut, dengan program-program pembelajarannya, dosen dan guru di nilai oleh masyarakat. Maka, pendidikan Islam berusaha melakukan penataan terhadap program-program pendidikannya agar mencapai standar mutu dan unggul yaitu lulusannya memiliki kompetensi pengetahuan yang memadai, memiliki afektif yang anggun, memiliki skill untuk dapat menjawab kabutuhan masyarakat, dan dapat diserap oleh pengguna pendidikan, apabila tidak maka akan menjadi sia-sia, bila mutu proses dan lulusannya rendah.

DAFTAR PUSTAKA
KTSP SMA Tahun 2006
Poernadarminta. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN. Balai Pustaka
Rama, Tri. 2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Agung
Team Direktorat Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Umum Negeri Departemen Agama Pusat. 1994. Pendidikan Agama Islam untuk SMA. Bandung: Lubuk Agung

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Desember 2011 in Makalah Pendidikan Agama Islam

 

Air Mutlak

Anda dapat mendownload makalah dibawah ini disini

PENGERTIAN AIR MUTLAK
Air mutlak adalah air yang hukumnya suci dan bisa digunakan untuk mensucikan sesuatu. Dalam fiqih dikenal dengan istilah Thahirun Li nafsihi Muthahhirun li ghairihi.
Air yang suci itu banyak sekali, namun tidak semua air yang suci itu bisa digunakan untuk mensucikan. Air suci adalah air yang boleh digunakan atau dikonsumsi, misalnya air teh, air kelapa atau air-air lainnya. Namun belum tentu bleh digunakan untuk mensucikan seperti untuk berwudhu` atau mandi. Maka ada air yang suci tapi tidak mensucikan namun setiap air yang mensucikan, pastilah air yang suci hukumnya.
Air ditinjau dari suci dan tidaknya terbagi menjadi 4 bagian diantaranya yang pertama adalah air suci dan mensucikan dan tidak dimakruhkan dalam penggunaannya. Air tersebut adalah air mutlak. Air mutlak adalah air yang tidak ada batas tertentu yang tetap dengan cara menyandarkannya seperti air mawar, air teh, air kuah, dll. Air tersebut tidak dikatakan air mutlak apabila terjadi penyandaran seperti contoh-contoh air tersebut diatas . Berbeda dengan air sumur, meskipun ada penyandaran kata pada lafadz air, tapi dalam hakikatnya air sumur tidak bercampur dengan sesuatu yang dapat merubah kemurnian air tersebut, seperti halnya air laut, air sungai, air telaga, dll. Atau air yang mempunyai sifat tertentu seperti firman Allah : من ماء دافق ( dari air yang tumpah (muncrat:jw) ) atau ال pada lafadz الماء merupakan ال للعهد seperti perkataan nabi muhammad saw kepada Ummi Salamah ketika Beliau ditanya, “Apakah wajib bagi perempuan untuk mandi apabila dia bermimpi (basah) ?” Beliau menjawab, نعم إذا رأت الماء (ya, ketikan perempuan tersebut melihat air (air mani) ). Ada terjadi perbedaan tentang kata air mutlak dengan mutlak air . Kalau air mutlak adalah air yang telah memenuhi tiga kriteria diatas, sedangkan mutlak air adalah bisa mencakup seluruh air yang suci, najis dan lain-lain.
Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa air mutlak adalah air yang tidak mengalami perubahan yang disebabkan oleh masuknya benda lain sehingga kemurnian air tetap terjaga. Apabila ditemukan air jenis ini, maka dapat dipakai untuk bersuci, berbeda dengan air yang sudah berubah seperti air the, air mawar, dll, maka tidak dapat dipakai untuk bersuci.
Imam Asy Syafi’i berkata: Air itu suci dan tidak najis kecuali karena adanya najis yang bercampur dengannya. Matahari dan api tidak najis. Najis hanyalah sesuatu yang diharamkan. Adapun yang diperas dari pohon mawar atau lainnya, maka bukanlah air yang suci menyucikan. Demikian juga air dari sesuatu yang mempunyai ruh bukanlah air yang suci menyucikan. Karena tak satupun dari hal-hal tersebut disebut air. Hal-hal itu disebut air dalam arti air mawar atau air pohon anu atau air dengan keterangan anu. Demikian juga bila menyembelih unta dan mengambil ususnya, lalu diperas airnya, maka ini bukanlah air suci menyucikan, karena sebutan air tidak sesuai untuk hal seperti ini kecuali bila disambungkan dengan lainnya, sebagaimana air (dari) usus dan air yang dirinci seperti air mawar dan air (dari) pohon begini dan begitu. Karena itu tidak mencukupi berwudhu dengan sesuatu dari hal-hal tersebut.
Bila diambil air, lalu dicampuri susu, tepung atau madu dan air melarutkannya, maka tidak boleh berwudhu dengannya. Air-air ini disebut air tepung, air susu atau air madu. Bila dilemparkan ke dalam air sesuatu dalam jumlah sedikit berupa roti, susu dan madu yang melarut, tetapi warna air jelas dan tak ada rasa dari sesuatu itu, maka boleh berwudhu dengannya. Air ini tetap dalam keadaanya.
Demikian juga bila dituangkan ter, lalu jelas bau ter di dalam air, maka tidak boleh berwudhu dengannya. Namun bila tidak jelas, maka boleh berwudhu dengannya. Karena ter dan air mawar bercampur dengan air, sehingga tidak dapat dibedakan dari air itu. Bila dituangkan ke dalam air minyak wangi atau dilemparkan ke dalamnya kayu atau sesuatu yang berbau yang tidak bercampur dengan air, lalu jelas baunya, maka boleh berwudhu dengannya, karena tak ada sesuatu dari hal-hal tersebut ada di dalam air. Bila dituangkan misik, parfum, atau sesuatu yang melarut ke dalam air sehingga air tak dapat dibedakan darinya, lalu jelas baunya, maka tak boleh berwudhu dengannya, karena air tersebut sekarang menjadi air campuran itu. Air itu disebut air bercampur misik, air bercampur parfum atau air campuran. Demikian juga segala makanan yang dilemparkan ke dalam air berupa roti, tepung, kuah dan lain-lainnya, bila jelas rasa dan bau dari sesuatu yang bercampur itu, maka tidak boleh berwudhu dengannya, karena air tersebut dihubungkan dengan apa yang mencampurinya.
Fukaha Syafi’iyyah : Diperselisihkan definisi air mutlak. Ada yang mengatakan bahwa air mutlak adalah air tanpa ada batasan-batasan dan keterangan-keterangan yang lazim. Ini merupakan definisi dalam Ar Roudhoh dan Al Muharror, dan telah dinyatakan oleh Asy Syafi’i. Ada juga yang mengatakan air mutlak adalah air yang tetap sesuai dengan sifat aslinya. Ada juga yang mengatakan bahwa disebut air dan disebut mutlak adalah karena air bila dimutlakkan, maka itulah yang dimaksudkan. Ini yang disebutkan oleh Ibnush Sholah dan dikuti oleh An Nawawi (dalam Syarh Al Muhazzab.
Setiap air yang turun dari langit, yang memancar dari bumi, baik yang tawar maupun yang asin, baik yang dipanaskan ataupun tidak, selama tetap sesuai dengan sifat aslinya, disebut air mutlak. Air mutlak bisa disebut air saja, tanpa menambahkan keterangan di belakangnya

A. MACAM – MACAM AIR DAN HIKMAHNYA
Diantara air-air yang termasuk dalam kelompok suci dan mensucikan ini antara lain adalah :
a. Air Hujan
Air hujan yang turun dari langit hukumnya adalah suci. Bisa digunakan untuk berwudhu, mandi atau membersihkan najis pada suatu benda. Meski pun di zaman sekarang ini air hujan sudah banyak tercemar dan mengandung asam yang tinggi, namun hukumnya tidak berubah, sebab kerusakan pada air hujan diakibatkan oleh polusi dan pencemaran ulah tangan manusia dan zat-zat yang mencemarinya itu bukan termasuk najis. Ketika air dari bumi menguap naik ke langit, maka sebenarnya uap atau titik-titik air itu bersih dan suci. Meskipun sumbernya dari air yang tercemar, kotor atau najis.
Sebab ketika disinari matahari, yang naik ke atas adalah uapnya yang merupakan proses pemisahan antara air dengan zat-zat lain yang mencemarinya. Lalu air itu turun kembali ke bumi sebagai tetes air yang sudah mengalami proses penyulingan alami. Jadi air itu sudah menjadi suci kembali lewat proses itu. Hanya saja udara kota yang tercemar dengan asap industri, kendaraan bermotor dan pembakaran lainnya memenuhi langit kita. Ketika tetes air hujan itu turun, terlarut kembalilah semua kandungan polusi itu di angkasa.
Namun meski demikian, dilihat dari sisi syariah dan hukum air, air hujan itu tetap suci dan mensucikan. Sebab polusi yang naik ke udara itu pada hakikatnya bukan termasuk barang yang najis. Meski bersifat racun dan berbahaya untuk kesehatan, namun selama bukan termasuk najis sesuai kaidah syariah, tercampurnya air hujan dengan polusi udara tidaklah membuat air hujan itu berubah hukumnya sebagai air yang suci dan mensucikan.
Apalagi polusi udara itu masih terbatas pada wilayah tertentu saja seperti perkotaan yang penuh dengan polusi udara. Di banyak tempat di muka bumi ini, masih banyak langit yang biru dan bersih sehingga air hujan yang turun di wilayah itu masih sehat. Tentang sucinya air hujan dan fungsinya untuk mensucikan, Allah SWT telah berfirman :
  •                    

Ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki. (QS. Al-Anfal : 11)
              

Dia lah yang meniupkan angin pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-nya ; dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih. (QS. Al-Furqan : 48)
b. Salju
Salju sebenarnya hampir sama dengan hujan, yaitu sama-sama air yang turun dari langit. Hanya saja kondisi suhu udara yang membuatnya menjadi butir-butir salju yang intinya adalah air juga namun membeku dan jatuh sebagai salju. Hukumnya tentu saja sama dengan hukum air hujan, sebab keduanya mengalami proses yang mirip kecuali pada bentuk akhirnya saja. Seorang muslim bisa menggunakan salju yang turun dari langit atau salju yang sudah ada di tanah sebagai media untuk bersuci, baik wudhu`, mandi atau lainnya.
Tentu saja harus diperhatikan suhunya agar tidak menjadi sumber penyakit. Ada hadits Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang kedudukan salju, kesuciannya dan juga fungsinya sebagai media mensucian. Di dalam doa iftitah setiap shalat, salah satu versinya menyebutkan bahwa kita meminta kepada Allah SWT agar disucikan dari dosa dengan air, salju dan embun
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ketika ditanya bacaan apa yang diucapkannya antara takbir dan al-fatihah, beliau menjawab,`Aku membaca,`Allahumma Ba`id Baini Wa Baina Khathaya Kamaa Baa`adta Bainal Masyriqi Wal Maghrib. Allahumma Naqqini min Khathayaa Kamaa Yunaqqats Tsaubal Abyadhu Minad-danas. Allahumma aghsilni min Khathayaaya Bits-tsalji Wal Ma`i Wal Barad.(HR. Bukhari 744, Muslim 597, Abu Daud 781 dan Nasai 60)
Artinya : Ya Allah, Jauhkan aku dari kesalahn-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara Timur dan Barat. Ya Allah, sucikan aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana pakaian dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan salju, air dan embun.
c. Embun
Embun juga bagian dari air yang turun dari langit, meski bukan berbentuk air hujan yang turun deras. Embun lebih merupakan tetes-tetes air yang akan terlihat banyak di hamparan kedaunan pada pagi hari. Maka tetes embun yang ada pada dedaunan atau pada barang yang suci, bisa digunakan untuk mensucikan, baik untuk berwudhu, mandi, atau menghilangkan najis. Dalilnya sama dengan dalil di atas yaitu hadits tentang doa iftitah riwayat Abu Hirairah ra.
d. Air Laut
Air laut adalah air yang suci dan juga mensucikan. Sehingga boleh digunakan untuk berwudhu, mandi janabah ataupun untuk membersihkan diri dari buang kotoran (istinja`). Termasuk juga untuk mensucikan barang, badan dan pakaian yang terkena najis.
Meski pun rasa air laut itu asin karena kandungan garamnya yang tinggi, namun hukumnya sama dengan air hujan, air embun atau pun salju. Bisa digunakan untuk mensucikan. Sebelumnya para shahabat Rasulullah SAW tidak mengetahui hukum air laut itu, sehingga ketika ada dari mereka yang berlayar di tengah laut dan bekal air yang mereka bawa hanya cukup untuk keperluan minum, mereka berijtihad untuk berwudhu` menggunakan air laut.
Sesampainya kembali ke daratan, mereka langsung bertanya kepada Rasulullah SAW tentang hukum menggunakan air laut sebagai media untuk berwudhu`. Lalu Rasulullah SAW menjawab bahwa air laut itu suci dan bahkan bangkainya pun suci juga.
Dari Abi Hurairah ra bahwa ada seorang bertanya kepada Rasulullah SAW,`Ya Rasulullah, kami mengaruhi lautan dan hanya membawa sedikit air. Kalau kami gunakan untuk berwudhu, pastilah kami kehausan. Bolehkah kami berwudhu dengan air laut ?`. Rasulullah SAW menjawab,`(Laut) itu suci airnya dan halal bangkainya. (HR. Abu Daud 83, At-Tirmizi 79, Ibnu Majah 386, An-Nasai 59, Malik 1/22).
e. Air Zam-zam
Air Zam-zam adalah air yang bersumber dari mata air yang tidak pernah kering. Mata air itu terletak beberapa meter di samping ka`bah sebagai semua sumber mata air pertama di kota Mekkah, sejak zaman Nabi Ismail as dan ibunya pertama kali menjejakkan kaki di wilayah itu. Selain disunnahkan untuk minum air zam-zam, juga bisa dan boleh digunakan untuk bersuci, baik untuk wudhu, mandi, istinja` ataupun menghilangkan najis dan kotoran pada badan, pakaian dan benda-benda. Semua itu tidak mengurangi kehormatan air zam-zam. Tentang bolehnya air zam-zam untuk digunakan bersuci atau berwudhu, ada sebuah hadits Rasulullah SAW dari Ali bin Abi Thalib ra.
Dari Ali bin Abi thalib ra bahwa Rasulullah SAW meminta seember penuh air zam-zam. Beliau meminumnya dan juga menggunakannya untuk berwudhu`. (HR. Ahmad).
f. Air Sumur atau Mata Air
Air sumur, mata air dan dan air sungai adalah air yang suci dan mensucikan. Sebab air itu keluar dari tanah yang telah melakukan pensucian. Kita bisa memanfaatkan air-air itu untuk wudhu, mandi atau mensucikan diri, pakaian dan barang dari najis. Dalil tentang sucinya air sumur atau mata air adalah hadits tentang sumur Bidho`ah yang terletak di kota Madinah.
Dari Abi Said Al-Khudhri ra berkata bahwa seorang bertanya,`Ya Rasulullah, Apakah kami boleh berwudhu` dari sumur Budho`ah?, padahal sumur itu yang digunakan oleh wanita yang haidh, dibuang ke dalamnya daging anjing dan benda yang busuk. Rasulullah SAW menjawab,`Air itu suci dan tidak dinajiskan oleh sesuatu`. (HR. Abu Daud 66, At-Tirmizy 66, An-Nasai 325, Ahmad3/31-87, Al-Imam Asy-Syafi`i 35).
g. Air Sungai
Sedangkan air sungai itu pada dasarnya suci, karena dianggap sama karakternya dengan air sumur atau mata air. Sejak dahuu umat Islam terbiasa mandi, wudhu` atau membersihkan najis termasuk beristinja dengan air sungai. Namun seiring dengan terjadinya perusakan lingkungan yang tidak terbentung lagi, terutama di kota-kota besar, air sungai itu tercemar berat dengan limbah beracun yang meski secara hukum barangkali tidak mengandung najis, namun air yang tercemar dengan logam berat itu sangat membahayakan kesehatan.
Maka sebaiknya kita tidak menggunakan air itu karena memberikan madharrat yang lebih besar. Selain itu seringkali air itu sangat tercemar berat dengan limbah ternak, limbah wc atau bahkan orang-orang buang hajat di dalam sungai. Sehingga lama-kelamaan air sungai berubah warna, bau dan rasanya. Maka bisa jadi air itu menjadi najis meski jumlahnya banyak.
Sebab meskipun jumlahnya banyak, tetapi seiring dengan proses pencemaran yang terus menerus sehingga merubah rasa, warna dan aroma yang membuat najis itu terasa dominan sekali dalam air sungai, jelaslah air itu menjadi najis. Maka tidak syah bila digunakan untuk wudhu`, mandi atau membersihkan najis. Namun hal itu bila benar-benar terasa rasa, aroma dan warnanya berubah seperti bau najis.
Namun umumnya hal itu tidak terjadi pada air laut, sebab jumlah air laut jauh lebih banyak meskipun pencemaran air laut pun sudah lumayan parah dan terkadang menimbulkan bau busuk pada pantai-pantai yang jorok.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.scribd.com
http://blog.re.or.id/2-qullah-itu-berapa-liter.htm
http://alhabaib.blogspot.com/2010/04/air-dan-pembagiannya-dalam-islam.html
http://ms.wikipedia.org/wiki/Air_%28bersuci%29
http://yaaukhti.wordpress.com/2011/04/28/pembahasan-air-suci-dan-air-najis/

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 15 Desember 2011 in Makalah Pendidikan Agama Islam

 

RESUME FILSAFAT PENDIDIKAN OLEH JUJUN S SURIASUMANTRI. 1985. FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER. JAKARTA: SINAR HARAPAN.

Untuk Makalah dibawah ini dapat didownload disini

RESUME FILSAFAT PENDIDIKAN OLEH JUJUN S SURIASUMANTRI.
1985. FILSAFAT ILMU SEBUAH PENGANTAR POPULER.
JAKARTA: SINAR HARAPAN.
BAB I ( ISI DAN FILSAFAT )
DAN
BAB II ( HAKIKAT MANUSIA DAN PERSOALAN PENDIDIKAN )
BAB I
ISI DAN ARTI FILSAFAT
Filsafat berakar dari bahasa Yunani ‘phillein’ yang berarti cinta dan ‘sophia’ yang berarti kebijaksanaan. Jadi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Arti secara etimilogi ini mempunyai latar belakang yang muncul dari pendirian Socrates, beberapa abad sebelum Masehi. Socrates berkata bahwa manusia tidak berhak atas kebijaksanaan, karena keterbatasan kemampuan yang dimilikinya. Terhadap kebijaksanaan, manusia hanya berhak untuk mencintainya. Pendirian Socrates tersebut sekaligus menunjukkan sikap kritiknya terhadap kaum Sophis yang mengaku memiliki kebijaksanaan.
Kemudian dari pendekatan etimologis dapat disimpulkan bahwa filsafat berarti pengetahuan mengenai pengetahuan. Dapat pula diartikan sebagai akar dari pengetahuan atau pengetahuan terdalam.
Berbicara mengenai perkembangan beberapa aliran filsafat, kita mengenal aliran Materialisme yang dikemukakan pertama kali oleh Herakleitos dan Parmenides. Herakleitos (535-475 SM) berpendapat bahwa ‘api’ adalah asas pertama yang merupakan dasar (arche) segala sesuatu yang ada. Karena dengan api, segala sesuatu bisa berubah menjadi abu. Api adalah lambing perubahan. Pengalaman menunjukkan bahwa segala sesuatu selalu mengalami perubahan. Tidak sesuatu pun yang tetap, definitif, dan sempurna. Jadi, yang menjadi sebab terdalam dari segala sesuatu adalah perubahan, yaitu gerakan ‘menjadi’ secara terus-menerus. Herakleitos menyebutnya ‘pantarei’, bahwa realitas sesungguhnya adalah dalam keadaan sedang mengalir, sedang bergerak menjadi, dan sering mengalami perubahan. Filsafat Herakleitos terkenal dengan ‘filsafat menjadi’ (to become).
Dari pendapatnya itu, dapat ditarik suatu penilaian bahwa Herakleitos tidak mengakui adanya pengetahuan umum yang bersifat tetap. Ia hanya mengakui kemampuan indera dan menolak kemampuan akal. Karena setiap perubahan terjadi dalam realitas konkret, dalam ruang dan waktu tertentu. Dalam gerakan ruang dan waktu, ‘biji’ berubah menjdai tumbuhan, menjadi pohon, dan kemudian berubah menjadi makanan, minuman, pakaian, perumahan, dan sebagainya.
Parmenides (540-575) terkenal sebagai bapak ‘Filsafat ada’ (philosophy of to be). Dikatakan bahwa realitas bukan yang berubah dan bergerak menjadi permacam-macaman, melainkan yang ‘ada’ (to be) dan bersifat tetap. Hal ini berarti bahwa di dalam realitas ini penuh dengan yang ‘ada’. Jadi tidak ada yang lain termasuk yang ‘tidak ada’, karena yang tidak ada itu di luar jangkauan akal dan tidak dapat dipahami.
Karena yang ‘ada’ bersifat tetap, maka adanya hanya satu dan tak mungkin ada permacam-macaman. Sebagai konsekuensinya, yang ‘ada’ tidak berawal dan tidak mengalami keakhiran. Oleh karena yang ‘ada’ itu satu. Maka tidak mungkin terbagi-bagi.
Karena pendapatnya yang mengatakan bahwa ‘yang ada itu ada (being as such) dan yang tidak ada memang tidak ada’, Parmenides pun dikukuhkan sebagai peletak landasan dasar metafisika. Parmenides sama sekali menolak pengetahuan indera sebagai kebenaran, seperti yang diakui oleh Herakleitos. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan akal, karena bersifat umum, tetap, dan tidak berubah. Sedangkan pengetahuan indera adalah pengetahuan yang sama sekali keliru. Oleh karena itu, kebenaran adalah sesuatu yang bersifat tetap.
Sejarah bergulir. Aliran Idealisme muncul melalui Socrates dan Plato. Ajaran Socrates (469-399 SM) sepenuhnya dikembangkan oleh muridnya Plato (427-347 SM). Menurut Socrates dunia sesungguhnya adalah ‘dunia idea’, dunia yang utuh dalam kesatuan yang bersifat tetap, tidak berubah. Dunia ini penuh dengan permacam-macaman dan perubahan. Karena itu, semua yang ada di dunia ini, termasuk manusia dan makhluk lainnya, bersifat ‘semu’ dan menjadi baying-bayang dari dunia idea. Jadi, bukan merupakan ‘kebenaran’.
Socrates menolak pendapat kaum sofis yang mengaku sebagai pemilik kebijaksanaan. Socrates berpendapat bahwa manusia dengan ke-semu-annya, hanya mampu mencintai kebijaksanaan. Kebijaksanaan hanya ada di dunia idea, yaitu dunuai yang tidak mungkin dapat disentuh oleh keterbatasan manusia. Ketidakmampuan manusia terjadi karena jiwa (akal), sebagai potensi mengetahui kebenaran, terpenjara di dalam badan. Badan selalu diliputi oleh nafsu yang mengotori jiwa. Dengan jiwa yang kotor, akal tidak mungkin mengetahui secara mutlak idea kebijaksanaan. Untuk dapat mengetahui kebijaksanaan, jiwa harus melepaskan diri dari penjara badan. Untuk dapat lepas dari badan, jiwa harus membersihkan diri dengan berperilaku ‘baik’, yaitu perilaku yang terbebas dari nafsu-nafsu badan. Pandangan Socrates dan Plato dikenal sebagai paham ‘idealisme’.
Aliran berikutnya adalah Realisme yang digagas oleh Aristoteles (384-342 SM). Bertentangan dengan Plato, gurunya, Aristoteles berpendapat bahwa dunia yang sesungguhnya adalah dunia real, yaitu dunia konkret, yang bernacam-macam, bersifat relative, dan berubah-ubah. Dunia idea adalah dunia abstrak yang bersifat semu dan terlepas dari pengalaman. Itulah sebabnya mengapa pandangan Aristoteles dikenal sebagai paham ‘realisme’.
Namun selanjutnya, Aristoteles dikenal sebagai bapak ‘metafisika’. Aristoteles memfokuskan filosofinya pada persoalan tentang sesuatu yang ada di balik (sesudah) yang fisis, yang konkret, dan selalu berubah-ubah ini.
Aliran selanjutnya adalah Rasionalisme yang diusung oleh Rene Descartes (1596-1650). Rene Descartes adalah ahli filsafat yang mengagungkan rasio. Pengetahuan yang benar bersumber dari dunia rasio, karena rasio adalah realitas sesungguhnya. Hal ini terbukti dengan ucapannya yang terkenal “cogito ergo sum” (I think therefore I am); dalam kegiatan pemikiran menentukan keberadaanku.
Empirisme muncul dengan tokohnya yang terkenal John Locke (1632-1704). Pengetahuan yang benar bersumber dari dunia pengalaman, dunia konkret. Realitas adalah “tabularasa”, bagaikan kertas putih yang perlu diisi dengan banyak pengalaman. Semakin banyak pengalaman mengenai sesuatu hal, semakin banyak pula kebenaran objektif yang didapatkan tentang sesuatu hal itu. Kemampuan rasio hanya dapat mengetahui secara abstrak, umum, dan bersifat tetap. Pengalaman panca inderalah yang maapu mengenali yang konkret, yang satu per satu dan selalu berubah-ubah ini.
Selanjutnya datang aliran kritisisme yang dibawa oleh Immanuel Kant. Pengetahuan yang benar ada di dunia idea; dunia kritik atas kemampuan akal pikiran dan pengalaman. Sesuatu yang menampak, yang dapat dialami dan dipikiran, hanyalah gejala (fenomena), bukan halnya sendiri (ding ansich) dan bukan substansinya. Halnya sendiri tidak bisa disentuh baik oleh kemampuan rasio maupun pengalaman. Demikianlah, Immanuel kant berpendapat secara akumulatif.
Secara fenomenologis, pengetahuan yang bersumber dari rasio disebut ‘pengetahuan apriori’, dan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman disebut ‘pengetahuan aposteriori’. Menurut metodenya, dibedakan menjadi pengetahuan ‘sintetik’ dan pengetahuan ‘analitik’. Kombinasi antara sumber dan metode melahirkan 4 (empat) jenis pengetahuan, yaitu sintetik-apriori, sintetik-aposteriori, analitik-apriori, dan analitik-aposteriori.
Dengan keempat sumber dan metode mengetahui tersebut, Kant mencoba membuktikan bahwa kemampuan rasio dan pengalaman tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling berada di dalam kelemahan dan kekuatannya masing-masing. Rasio memiliki kemampuan menangkap kebenaran pengetahuan secara umum, tetapi lemah dan kabur terhadap pengetahuan konkret khusus. Sebaliknya, pengalaman memiliki kekuatan mengenali setiap hal yang khusus, tetapi kabur terhadap prinsip-prinsip umum.
Dari perkembangan pemikiran filsafat di atas, dapat disimpulkan bahwa definisi filsafat adalah pemikiran radikal. Penyelidikan dengan pemikiran mendalam atau perenungan mengenai objek sampai ke akar-akarnya (radix). Maksudnya adalah berpikir mendalam sampai ditemukan unsur-unsur inti yang secara sistematik menjadi objek pemikiran itu ada sebagaimana halnya. Sering pula dikatakan bahwa filsafat adalah perenungan mengenai objek sampai pada tingkat kebenaran hakiki, yaitu, kebenaran tingkat abstrak-universal yang bersifat mutlak.

BAB II
HAKIKAT MANUSIA DAN PERSOALAN PENDIDIKAN
Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia lahir dengan potensi kodratnya berupa cipta, rasa dan karsa. Cipta adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai ‘kebenaran’. Rasa adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai ‘keindahan’. Sedangkan karsa adalah kemampuan spiritual, yang secara khusus mempersoalkan nilai ‘kebaikan’.
Dengan ketiga potensinya itu, manusia selalu terdorong untuk ingin tahu dan bahkan mendapatkan nilai-nilai kebenaran, keindahan dan kebaikan yang terkandung di dalam segala sesuatu yang ada (realitas). Oleh karena itu, manusi disebut juga makhluk berpengetahuan.
Sejak lahir, seorang manusia sudah langsung terlibat di dalam kegiatan pendidikan dan pembelajaran. Dia dirawat, dijaga, dan dididik oleh orang tua, keluarga, dan masyarakatnya menuju tingkat kedewasaan dan kematangan, sampai kemudian terbentuk potensi kemandirian dalam mengelola kelangsungan hidupnya.
Secara langsung atau tidak, setiap kegiatan hidup manusia selalu mengandung arti dan fungsi pendidikan. Dengan pendidikan, manusia melakukan kegiatan makan, minum, bekerja, beristirahat, bermasyarakat, beragama, dan sebagainya.
Jadi, antara manusia dan pendidikan terjalin hubungan kausalitas. Karena manusia, pendidikan mutlak ada; dan karena pendidikan, manusia semakin menjadi diri sendiri sebagai manusia yang manusiawi. Oleh karena itu manusia disebut juga dengan makhluk berpendidikan.
Dengan kegiatan pendidikan dan pembelajaran secara terus-menerus, manusia mendapatkan ilmu pengetahuan yang sarat dengan nilai kebenaran baik yang universal-abstrak, teoretis, maupun yang praktis. Nilai kebenaran ini selanjutnya mendorong terbentuknya sikap perilaku arif dan berkeadilan. Lebih lanjut, dengan sikap dan perilaku tersebut, manusia membangun kebudayaan dan peradabannya. Kebudayaan, baik yang material ataupun yang spiritual, adalah upaya manusia untuk mengubah dan membangun keterhubungan berimbang baik secara horizontal maupun vertikal. Dalam pengertian ini, manusia disebut sebagai makhluk berkebudayaan.
Seseorang disebut berkebudayaan jika senantiasa mampu melakukan pembatasan diri dan menjalani kehidupannya menurut asas ‘kecukupan’ (basic needs), bukan malah menuruti keinginan.
Akhir-akhir ini kerap terjadi tindakan komersialisasi pendidikan. Komersialisasi pendidikan berbanding lurus dengan krisis moral. Hal ini terjadi karena ada pendangkalan orientasi kependidikan sebagai akibat dari sistem ekonomi pasar dunia yang material-kapitalistik. Watak perekonomian material-kapitalistik ini melekat mulai dari titik kebijakan hingga pada praktik penyelenggaraan pendidikan. Penjabaran tujuan pendidikan dan materi pendidikan ke dalam kurikulum, di dalam kegiatan pendidikan sekolah, misalnya, ternyata sebatas slogan verbal belaka.
Pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan pendidikan sangat kurang memperhatikan penekanan pada persoalan metodologo kependidikan. Sementara itu, justru metode pengajaran terlalu mendapatkan penekanan, sehingga upaya penumbuhan bakat tergantikan sepenuhnya dengan kemampuan reseptik-memoris (hafalan). Wawasan pendidikan yang seharusnya berorientasi pada proses (process oriented), berubah total menjadi “result oriented”. Akibatnya, bersamaan dengan itu, kreatifitas individual menjadi tumpul dan yang berkembang adalah moral peniruan (the morality of imitation).

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Desember 2011 in Makalah Pendidikan Agama Islam

 

Pembahasan Tafsir surat At-Tiin ayat 1-8 dan surat Al-Israa ayat 7

Untuk file makalah dibawah ini dapat didownload disini

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah
Sebagai seorang muslim yang beragama Islam dan taat kepada Allah dan Rosul-Nya kita wajib melaksanakan segala yang telah diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Dengan mengkaji Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Manusia merupakan makhluk yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk Allah yang lain, yang membedakan mereka yaitu karunia akal yang sempurna. Manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai kholifah di muka bumi, oleh karena itu mereka didesain dengan baik dan sempurna. Akan tetapi kemanakah manusia itu kembali itu tergantung pada amal perbuatan mereka, jika mereka melakukan kebaikan yang diridhoi Allah, kelak akan dimasukkan ke Surga, akan tetapi jika tidak mau melakukan amal perbuatan yang baik, kelak mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.
Dimulai dari penciptaan manusia pertama yaitu Nabi Adam As dengan proses yang begitu menakjubkan, berawal dari sebuah debu kemudian diproses sedemikian rupa sehingga terbentuklah seperti bentuk manusia pada umumnya dengan bentuk yang berbeda-beda.

II. Rumusan Masalah
Didalam perumusan masalah, penulis menuliskan beberapa hal yang patut dikaji dalam materi ini, diantaranya :
1. Perbedaan antara manusia dengan makhluk hidup yang lain ?
2. Apa yang membuat perbedaan diantara manusia satu dengan manusia yang lain ?
3. Apa yang dapat kita ambil dari surat At-Tiin ayat 1-8 dan surat Al-Israa ayat 7 ?

III. Tujuan Masalah
Beberapa tujuan yang dapat dihasilkan pada surat At-Tiin ayat 1-8 dan surat Al-Israa ayat 7 adalah :
1. Kita dapat mengetahui perbedaan manusia dengan makhluk hidup yang lain.
2. Kita dapat mengetahui hal-hal yang membuat terjadinya perbedaan di antara manusia satu dengan manusia yang lain.
3. Kita juga dapat mengetahui hikmah atau faedah yang dapat kita ambil dalam surat At-Tiin ayat 1-8 dan surat Al-Israa ayat 7

BAB II
PEMBAHASAN MATERI
I. Surat At-Tiin ayat 1 – 8

 •                                        
1. Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1587],
2. Dan demi bukit Sinai[1588],
3. Dan demi kota (Mekah) Ini yang aman,
4. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
5. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
7. Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
8. Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?

At –Tin artinya buah tin, Surat ini terdiri dari delapan ayat, termasuk golongan surat Makkiyah, ayat ini menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk terbaik secara jasmaniah dan rohaniah. Namun akan meluncur ke derajat yang lebih rendah dari binatang apabila dia tidak mampu mempertahankan kemuliaannya.

A. Asbabun Nuzul
Abi Hatim meriwayatkan hadist ini dari Said bin Jabir beliau berkata : ketika di turunkan ayat اتقواالله حق تقاته kaum muslimin pada saat itu beramal dengan sangat sehingga mereka tidak memperdulikan masalahnya, kemudian Allah menurunkan ayat فاتقوا الله ماستطعتم untuk meringankan umat muslim.
Dalam ayat lain yang diriwayatkan dari Ibnu Jarim dari jalanya aufi dari Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT :……… ثم رددناه اسفل سافلين beliau berkata bahwa mereka adalah sekelompok orang yag di kembalikan pada orang-orang yang paling hina pada masa Rosulullah, Ayat lain menyebutkan dalam surat Al Alaq yakni ا ان الانسان كل, ayat tersebut di turunkan untuk Abu Jahal, karena Abu Jahal merupakan orang yang dholim dan congkak di karenakan banyaknya harta pada waktu itu, dan dia juga sangat memerangi Rosulullah.
kemudian timbul satu pertanyaan tentang mereka ketika akal mereka mengalami gangguan, kemudian Allah memberi udzur kepada mereka bahwasanya pahala yang di peroleh dari perbuatan yang mereka lakukan sebelum hilangnya akal mereka adalah miliknya.

B. Isi Kandugan
(Ayat 1-3)
Kata Tin dalam Al Qur’an hanya disebut satu kali, yaitu dalam surat ini ,Ada ahli tafsir yang menyebutkan bahwa Tin adalah buah yang berada di daerah Timur Tengah, apabila telah matang maka warnanya coklat berbiji seperti tomat, rasanya manis, berserat tinggi dan juga bisa di gunakan sebagai obat.
Kata Zaitun dalam surat ini ada ahli tafsir yang menyebutkan sejenis tumbuhan yang berada di laut tengah, pohonnya berwarna hijau, buahnya juga berwarna hijau, namun ada pula yang warnanya hitam pekat seperti anggur.
Tidak semua ahli tafsir berpendapat, bahwa yang dimaksud Tin dan Zaitun adalah nama buah, ada juga yang berpendapat bahwa Tin adalah nama bukit tempat Nabi Ibrahim AS menerima wahyu, Zaitun adalah nama bukit tempat Nabi Isa AS menerima wahyu, oleh karena itu Tin dan Zaitun adalah tempat penting yang di anggap bersejarah.
Kalau kita cermati konteks ayat tersebut, pendapat yang terakhir lebih logis karena pada ayat berikutnya, yaitu ayat yang kedua dan ke tiga, Allah SWT befirman tentang Bukit Sinai dan Kota Makkah. Hampir seluruh ahli tafsir sependapat ayat (thurisiiniin) adalah bukit tursina atau lebih di kenal dengan bukit sinai, yang berada di Palestina .
Dan yang di maksud dengan Baladil Amiin yaitu kota Makkah ( Negeri yang damai ), tempat Nabi Muhammad lahir dan menerima wahyu.
Dengan empat ayat diatas, Allah SWT bersumpah dengan empat tempat penting ini, yaitu Tin, Zaitun, Tursina dan Balaadil Amin (Kota Makkah), dimana pada empat tempat tersebut Nabi Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW menerima wahyu untuk memberikan bimbingan dan pencerahan hidup pada umat manusia. Bimbingan yang di berikan para Nabi dan Rasul ditunjukkan untuk menjaga manusia agar tetap barada pada kemuliaan,
      
Menerangkan tentang bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah dalam bentuk yang terbaik, baik lahir dan batinnya, dalam ayat ini pula menegaskan secara eksplisit bahwa manusia itu diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna .
Ar-Raghhib Asfahani, seorang pakar bahasa Al Qur’an menyebutkan bahwa kata ”TAQWIIM” pada ayat ini merupakan isyarat tentang keistimewaan manusia dibanding dengan binatang yakni pikiran dan perasaan yang sempurna.
Penegasan Allah dalam surat ini adalah bahwa Allah menciptakan manusia dengan kondisi fisik dan psikis, keduanya itu harus dipelihara, fisik manusia di pelihara dengan cara memberi gizi yang cukup dan menjaga kesehatannya. Dan psikis manusia dipelihara dengan memberikan agama dan pendidikan yang baik, Apabila dua kondisi ini dipelihara dan ditumbuhkembangkan maka manusia akan dapat memberikan kemanfaatannya untuk alam, dengan demikianlah manusia akan menjadi makhluk yang mulia.
(Ayat 5, 6, 7)
Demikianlah Allah menakdirkan kejadian manusia itu, sesudah lahir ke dunia, dengan berangsur-angsur tubuh menjadi kuat dan berkembang menjadi dewasa, sampai dipuncak kejadian umur. kemudian berangsur menurun yakni badan fikiran lemah, tenaga mulai berkurang, sehingga mulai rontok gigi, rambut hitam berganti dengan uban, dan kulitpun menjadi kendor, telingapun berangsur kurang pendengaranya, dan mulai menjadi orang pelupa. Kemudian apabila umur itu masih panjang juga mulailah padam kekuatan akal, Sehingga kembali seperti kanak-kanak, sudah mulai minta belas kasihan anak dan cucu. malahan ada yang sampai pikun tidak tahu apa-apa lagi. Inilah yang dinamakan dengan “ARDZALIL-‘UMUR”: tua nyanyuk. Kecuali orang yang beriman dan beramal shalih.
Manusia diciptakan Allah di dunia ini membawa amanah yang sangat besar, derajatnya akan turun ketingkat yang paling hina dari binatang sekalipun, tetapi dalam ayat lain menyebutkan: “Orang yang tidak akan turun derajat yang paling rendah adalah orang beriman. Iman secara bahasa bermakna ”pembenaran”, maksudnya pembenaran terhadap apa yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, pokok-pokoknya tergambar dalam rukun iman yang enam. ”Al immanu yaziidu wayanqushu” (Iman itu fluktuatif, dapat bertambah dan bisa berkurang). Karena itulah kita wajib menjaga iman agar tetap prima.
Selain beriman, yang bisa menyelamatkan manusia dari kejatuhanya adalah ”Amilus Shalihat” (beramal shalih) Kata ‘Amiluu berasal dari kata “amilun, Artinya pekerjaan yang dilakukan dengan penuh kesadaran. Kata shalihaat berasal dari kata shaluha, artinya bermanfaat untuk dirinya maupun orang lain, serta pekerjaanya itu sesuai dengan aturan-aturan yang talah ditentukan. Tanpa iman kepada Allah SWT, amal yang dilakukan akan sia-sia belaka.
Surat ini ditutup dengan ”Alaisallahu biahkamil haakimiin (“Bukankah Allah itu hakim yang seadil –adilnya”). Seolah –olah ayat ini mengatakan, ”Pikirkanlah wahai manusia, hanya Allah SWT, Hakim yang Maha Adil dan Maha Mengetahui kebutuhan kamu. Oleh sebab itu, hanya aturan-aturan-Nya yang bisa memenuhi kebutuhan kita ! ”Semoga kita menjadi orang-orang yang taat menjaga kemuliaan dari Allah, caranya adalah dengan selalu meningkatkan iman dan mengerjakan amal shaleh. Amin.”

C. Faedah-Faedah
Semua ayat dalam Al-Qur’an mengandung faedah yang banyak diantaranya :
Memberikan ketenangan hati bagi pembacanya, dengan merenungi ayat–ayat diatas betapa Allah memulyakan manusia atas makhluk lainya sehingga memotivasi untuk kita berbuat lebih baik, Menguatkan keyakinan keagamaan yang selama ini kita anut. menghimpun pokok-pokok aqidah islamiyah, lafadz-lafadz tahdir yang ada pada ayat diatas dapat mengingatkan kita untuk tidak sampai pada perbuatan yang dzolim.

II. Surat Al-Israa Ayat 7

                   •     • 
Artinya : “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.”

Surah Al-Isra’ (bahasa Arab:الإسرا, al-Isrā, “Perjalanan Malam”) adalah surah ke-17 dalam al-Qur’an. Surah ini terdiri atas 111 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Surah ini dinamai dengan Al-Isra yang berarti “memperjalankan di malam hari”, berhubung peristiwa Israa’ Nabi Muhammad SAW. di Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Baitul Maqdis (Palestina) yang dicantumkan pada ayat pertama dalam surah ini. Surat ini dinamakan pula dengan nama Surah Bani Israil dikaitkan dengan penuturan pada ayat ke-2 sampai dengan ayat ke-8
Dimana Allah menyebutkan tentang Bani Israil yang setelah menjadi bangsa yang kuat lagi besar lalu menjadi bangsa yang terhina karena menyimpang dari ajaran Allah SWT. Dihubungkannya kisah Isra dengan riwayat Bani Israil pada surah ini, memberikan peringatan bahwa umat Islam akan mengalami keruntuhan, sebagaimana halnya Bani Israil, apabila mereka juga meninggalkan ajaran-ajaran agamanya.

A. ISI KANDUNGAN
Didalam surat Al-Israa ini, Allah telah mengaskan kita bahwasanya apabila seseorang berbuat baik atau kebajikan kepada orang lain, maka hasil kebaikan itu untuk mereka sendiri, namun demikian, ketentuan yang terdapat dalam ayat ini tidak khusus untuk mereka sendiri, melainkan berlaku umum untuk seluruh manusia sepanjang masa. Balasan dari kebaikan atau kebajikan itu akan dirasakannya, baik di dunia maupun di akhirat, kebaikan atau kebajikan yang diterima di dunia ialah mereka menjadi umat yang kuat, mempertahankan diri dari maksud jahat yang direncanakan oleh musuh-musuh mereka, dan dapat menjamin kelancaran serta ibadah kita kepada Allah SWT. Sedangkan kebaikan di akhirat adalah kebaikan yang abadi yakni surga yang penuh dengan kenikmatan yang disediakan dan dijanjikan kepada mereka, sebagai bukti keridhaan Allah SWT atas kebaikan yang mereka lakukan, dan begitu juga sebaliknya.
Apabila mereka berbuat jahat dengan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan wahyu dan fitrah Allah, maka akibat dari perbuatan mereka adalah kemurkaan Allah SWT yang amat pedih kepada mereka. Dengan demikian, mereka akan menjadi umat yang bercerai-berai karena diperbudak oleh hawa nafsu, sehingga kelompok satu menundukkkan kelompok yang lain.

B. FAEDAH-FAEDAH
1. Memberikan ketenangan bagi yang membacanya
2. Dengan merenungi ayat-ayat diatas, Allah SWT memuliakan manusia atas makhluk lainnya, sehingga memotivasi untuk kita berbuat yang lebih baik.
3. Dapat mengingatkan kita untuk tidak sampai pada perbuatan yang dzolim.

III. KORELASI
Korelasi atau hubungan surat At-Tiin ayat 1-8 dan surat Al-Israa ayat 7 adalah sama-sama menjelaskan tentang amal manusia di dunia dan balasan-balasan yang akan mereka terima di dunia dan di akhirat, di samping itu kedua surat ini sama-sama menjelaskan tentang perbedaan manusia satu dengan manusia yang lain.

BAB III
PENUTUP
SIMPULAN
Dari materi yang kami terangkan di dalam pembahasan materi, dapat kami ambil beberapa kesimpulan, diantaranya :
 Bahwasanya manusia diciptakan oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya diantara makhluk Allah yang lain.
 Bahwasanya amal kebaikan dan amal keburukan manusia pasti akan mendapatkan balasan dari Allah di dunia maupun akhirat kelak.
 Jika kejayaan dan kenikmatan yang kita rasakan menurut kita adalah dari kita sendiri itu adalah kenikmatan yang semu, sebab janji Allah bagi mereka pasti akan berlaku yakni Surga yang penuh dengan kenikmatan.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Musthofa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi
Poernadarminta. 1984. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: PN, Balai Pustaka
Rama, Tri. 2001. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Karya Agung
Rosidi, Iman. 2005. Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: CV. Media Pustaka
Tafsir Qur’anul Adzim
Tim Depag RI, Al Qur’an dan Terjemahnya. Madinah : 1431 H
http://read.kitabklasik.co.cc
http://www.google.co.id
http://en.wikipedia.org/wiki/At-Tin
http://id.wikipedia.org/wiki/Surah_Al-Isra

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Desember 2011 in Makalah Pendidikan Agama Islam